Konten dari Pengguna

Boven Digoel, Saksi Bisu Kisah Pengasingan Para Tokoh Kemerdekaan Indonesia

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Boven Digoel. Sumber: Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Boven Digoel. Sumber: Wikimedia Commons

Kabupaten Boven Digoel, atau yang dikenal dengan sebutan Digoel Atas, di masa kolonial Belanda merupakan lokasi pengasingan tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia. Lokasi ini terletak di tepi Sungai Digul Hilir, Tanah Papua bagian selatan.

Digoel disiapkan dengan tergesa-gesa oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk menampung tawanan pemberontakan November 1926. Boven Digoel kemudian digunakan sebagai lokasi pembuangan pemimpin-pemimpin nasional yang jumlahnya hingga sekitar 1.308 orang.

Boven Digoel merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Merauke, Papua, ujung timur Indonesia.

Tercatat sejumlah tokoh nasional pernah dibuang ke Boven Digul seperti Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Kedua tokoh pergerakan nasional itu dibuang di lokasi itu pada 28 Januari 1935 silam. Mereka dianggap musuh pemerintah kolonial Belanda karena membangkang.

Sumber: Wikimedia Commons

Selain Hatta dan Sjahrir, mereka yang dibuang ke Digoel di antaranya Mohamad Bondan, Maskun, Burhanuddin, Suka Sumitro, Moerwoto, Ali Archam, dan sejumlah para pejuang lainnya. Berdasarkan informasi yang dihimpun, para pejuang pergerakan, Digoel adalah tempat pembuangan yang paling menyeramkan.

Digul dibangun oleh Gubernur Jenderal De Graeff pada 1927 sebagai lokasi pengasingan tahanan politik. Di sekeliling Digoel terdapat hutan rimba dengan pohon yang menjulang tinggi. Bung Hatta pernah dibuang disana selama satu tahun.

Digul jauh dari manapun, hanya dengan jalur udara untuk mengakses lokasi tersebut. Digoel semakin mengerikan lantaran banyak nyamuk malaria yang ganas. Sungai Digul memiliki panjang 525 kilometer. Selain panjang, juga banyak buaya di sungai ini.

Penghuni penjara 'politik' Digoel ini hampir semuanya adalah para aktivis politik yang melakukan pemberontakan kepada kolonial Belanda. Banyak tokoh-tokoh terkenal yang dibuang kesana. Salah satunya Thomas Nayoan pemuda asal Minahasa yang berusaha untuk melarikan diri dari kamp tersebut. Thomas Nayoan ini adalah tawanan yang gigih untuk melarikan diri, walaupaun pelariannya gagal dan sempat menyasar ke Australia.

Ia melarikan diri lewat sungai dengan menggunakan perahu, akan tetapi malah tibanya di Australia, karena memang sebelumnya Australia sudah memiliki perjanjian ekstradisi dengan Belanda, maka ia dibawa kembali ke kamp. Thomas Nayoan merupakan salah satu tokoh dalam pemberontakan PKI di Banten.

Ada pula cerita lainnya dari Mohammad Bondan, aktivis PNI kelahiran Cirebon tahun 1910. Kisahnya ini diceritakan dalam karya dengan judul “Spanning a Revolution” yang menceritakan adalah Istrinya, Molly Bondan menceritakan pengalaman suaminya selama berada di kamp konsentrasi Digoel.

Sumber: Wikimedia Commons

Dalam buku itu dikisahkan perjalanan Bondan ketika di Digoel, Ia merupakan rombongan dari Hatta, Syahrir, dan para aktivis lainnya. Bondan ini menceritakan tentang perlakuan yang ia dapatkan dari pemerintah kolonial Belanda, yang sering membuat permusuhan antara para tawanan, yang membuat tawanan saling bertengkar karena perbuatan mereka yang mengadu domba para tawanan kamp Digul.

Pada saat Jepang menduduki Indonesia dan juga pecahnya Perang Pasifik, para tawanan Boven Digoel dipindahkan atau dialihkan oleh Belanda ke Australia. Pemindahan itu dikarenakan pihak Belanda kekhawatiran tahanan akan memberontak jika tetap berada di Boven Digul.

Bagian dari kamp itu tidak dibebaskan lebih awal dari pertengahan 1943, akan tetapi ketika dalam menghadapi pendudukan Jepang. Pada akhirnya Belanda menutup kamp Digoel tersebut dan mengirim seluruh penduduk ataupun tawanan Boven Digoel ke Australia.

Belanda berharap orang-orang Indonesia yang menjadi tawanannya dan kemudian dibawa ke Australia akan membantu Belanda. Akan tetapi keadaan malah berbalik, tahanan politik itu dapat mempengaruhi serikat buruh Australia untuk memboikot kapal-kapal Belanda yang mendarat di Benua Kanguru.

Akhirnya setelah sekutu berhasil memperoleh kemenangan dari pemerintahan kolonial Belanda di Hindia Belanda, tawanan itu dikembalikan ke tempat asalnya di Indonesia.

Sumber: indonesia.go.id