News
·
16 April 2018 22:26

Boyang, Rumah Adat Masyarakat Mandar

Konten ini diproduksi oleh Potongan Nostalgia
Boyang, Rumah Adat Masyarakat Mandar (2853)
Rumah Adat Boyang (Foto: denahrumah3kamar.download)
Boyang sangat erat kaitannya dengan sejarah masyarakat Mandar, yang diceritakan dalam Lontarak Mandar mengenai sepasang manusia di daerah Tinambung. Mereka bergelar Tomanurung yang muncul di hulu Sungai Saddang pada 1190 M.
ADVERTISEMENT
Keturunan Tomanurung tersebar di wilayah Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. Merekalah cikal bakal dari golongan raja dan bangsawan yang berkuasa di wilayah itu. Menurut sejarahnya, masyarakat Mandar mulai membangun sebuah pemukiman yang terdiri dari boyang-boyang, sebagai tempat tinggal mereka.
Terdapat dua jenis boyang yang dibangun oleh masyarakat Mandar, yaitu boyang adaq dan boyang beasa. Boyang adaq adalah tempat tinggal untuk kaum bangsawan, sedangkan boyang beasa merupakan tempat tinggal bagi rakyat biasa.
Perbedaan utama dari kedua bangunan itu terletak pada ornamen yang ada di seluruh bagian rumah. Ciri yang dimiliki boyang adaq, di antaranya memiliki tumbaq layar (penutup bubungan) yang bersusun tiga sampai tujuh tumpuk. Selain itu boyang adaq memiliki dua tangga bersusun, berjumlah tiga anak tangga dan sebelas anak tangga.
ADVERTISEMENT
Sementara ciri yang dimiliki boyang beasa tidak semegah boyang adaq, karena masing-masing hanya memiliki satu tumpuk atap dan satu susun anak tangga.
Boyang berbentuk rumah panggung dengan konsep tiga susunan. Bagian pertama dinamakan tapang, yaitu susunan paling atas yang meliputi atap dan loteng. Bagian kedua dinamakan roang hayang, yaitu ruangan yang ditempati oleh penghuni rumah untuk melakukan segala aktivitasnya. Bagian ketiga dinamakan naong boyang yang letaknya paling bawah.
Setiap bagian rumah juga terdiri dari tiga petak, yang oleh masyarakat lokal disebut tallu lotang. Petak pertama berada paling depan disebut samboyang, petak kedua berada di tengah disebut tangnga boyang, dan petak ketiga berada di belakang disebut bui lotang.
Pembagian rumah menjadi tiga susun dan tiga petak mencerminkan ungkapan orang Mandar, yang berbunyi “da dua tassisara, tallu tammallaesang”, artinya “dua tak terpisahkan, tiga saling membutuhkan”.
ADVERTISEMENT
Istilah dua tak terpisahkan mencerminkan konsepsi orang Mandar mengenai hukum dan demokrasi, sedangkan istilah tiga saling membutuhkan mencerminkan konsepsi orang Mandar mengenai aspek ekonomi, keadilan, dan persatuan.
Rumah-rumah penduduk, baik boyang adaq maupun boyang beasa menggunakan atap rumbiah, karena bahan itu banyak tersedia dan mudah didapatkan. Sedangkan sekarang ini sudah banyak rumah yang menggunakan atap seng. Bagian atap rumah dapat memberikan identitas dari pemiliknya.
Setiap atap biasanya memiliki penutup yang sering dipasang ukiran bunga melati. Di bagian ujung atap akan ditemukan ukiran burung atau ayam jantan. Di bagian bawah atap akan ditemukan sebuah ruangan yang diberi nama tapang, berfungsi sebagai gudang untuk menyimpan barang-barang yang jarang digunakan.
Dahulu, tapang digunakan untuk ruang tidur sementara bagi perempuan yang sebentar lagi akan menikah. Ia ditempatkan di sana agar tidak dapat kabur dan menodai harga diri keluarga.
ADVERTISEMENT
Ruangan utama boyang digunakan untuk menerima tamu, tempat tidur tamu bila sedang bermalam, tempat pelaksanaan kegiatan yang dilakukan di dalam rumah, seperti hajatan, dan juga sebagai tempat membaringkan jenazah sebelum dikuburkan.
Jika melihat fungsinya yang sangat penting itu, maka ruangan tersebut menjadi fokus perhatian pemiliknya untuk selalu menjaga kebersihan dan kerapian ruangan itu. Oleh karenanya, aktivitas keluarga tidak banyak dilakukan di sana, mereka memiliki ruangannya tersendiri.
Ruangan paling belakang dari boyang digunakan sebagai tempat berkumpul para gadis. Ruangan tersebut dianggap sebagai ruangan paling aman dari gangguan apapun.
Sumber: warisanbudaya.kemendikbud.go.id