Konten dari Pengguna

Bukan Kosmetik Biasa, Cat Kuku Dulunya Adalah Penanda Status Sosial

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Wikimedia Commons

Mewarnai kuku pada masa dahulu bukan sekedar mempercantik tampilan belaka seperti pada masa kini. Warna kuku seseorang menunjukkan status sosial pada masa Tiongkok dan Mesir kuno.

Nenek moyang kita mulai menggunakan cat kuku sejak lama. Orang Mesir kuno sudah menggunakan bahan pacar untuk mewarnai kuku mereka. Namun, menurut sejarawan dan arkeolog, penemuan cat kuku sebenarnya berasal dari Tiongkok kuno.

Sumber: Wikimedia Commons

Pada 3000 SM, orang Cina mulai bereksperimen dengan berbagai bahan untuk membuat cat kuku. Mereka menggabungkan karet Arab, lilin lebah, putih telur, gelatin, dan pewarna nabati untuk membuat pernis, enamel, dan pernis.

Selama Dinasti Chou tahun 600 SM, warna emas dan perak dikaitkan dengan keluarga kerajaan. Pemilihan warna kemudian berubah. Dalam sebuah manuskrip dinasti Ming dari abad ke-15 M tertulis bahwa anggota keluarga kerajaan menggunakan warna hitam dan merah untuk mengecat kuku mereka. Warna-warna ini menunjukkan status sosial tertinggi.

Pada zaman Mesir kuno, Lukisan dinding yang ditemukan di kuil-kuil Mesir kuno yang menggambarkan kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa pria juga sering kali memakai riasan. Nyatanya, hampir tidak mungkin menemukan potret orang Mesir kuno yang matanya tidak dihiasi.

Sumber: Wikimedia Commons

Jadi, tidak mengherankan jika orang Mesir kuno juga menyukai cat kuku. Sama seperti di Tiongkok kuno, warna kuku datang untuk menandakan tatanan sosial. Ratu Nefertiti mengecat kuku jari tangan dan kakinya dengan warna merah delima, dan Cleopatra menyukai warna merah karat yang dalam.

Wanita Mesir kuno dari kelas sosial bawah tidak diizinkan menggunakan warna yang mencolok. Mereka hanya gunakan warna pucat saja. Tidak ada wanita yang berani memamerkan warna yang dikenakan oleh ratu atau raja. Kaum pria Mesir kuno juga mewarnai kuku mereka.

Perlu ditambahkan bahwa banyak peradaban kuno lainnya juga menggunakan warna untuk menunjukkan peringkat sosial. Misalnya, bangsa Viking menggunakan warna-warna kuat sebagai lambang status dan kekayaan.

Sumber: ancientpages.com