Konten dari Pengguna

Cerita Haji Jamhari Penemu ‘Kretek’ Warisan Asli Indonesia

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Meski mulai tergilas oleh indutri rokok, kretek nyatanya masih hidup dan membudaya khususnya di Jawa. Tidak banyak yang bisa membedakan bahwa sebenarnya Kretek adalah warisan asli budaya Indonesia dan berbeda dari rokok-rokok yang di jual umumnya. Selain cara pembutaannya diolah oleh tangan langsung dengan tembakau asli, kretek asli indonesia memiliki ciri khas bumbu rempah-rempah didalamnya.

Dalam persfektif historisnya kretek sendiri memang mengalami proses yang cukup panjang. Kretek untuk pertama kali di kembangkan di Kudus pada tahun 1921. Kebiasaan merokok ini dibawa oleh bangsa portugis yang datang ke nusantara puluhan abad yang lalu. Bangsa Portugis yang merupakan bangsa pertama yang menjajah Indonesa khusunya bagian timur, membawa tembakau dengan cerutunya ke nusantara. Pada saat itu tembakau memang sedang ‘booming’ di Eropa, selain dapat berfungsi sebagai penghangat ketika musim dingin, tembakau dengan cerutunya khas orang Eropa juga menjadi suatu ‘style’ tersendiri.

Tembakau diketahui berasal dari suku Indian, dan Aztec di Amerika Tengah, yang kemudian menyebar dan di budidyakan di Eropa. Meskipun Portugis merupakan agent yang memperkenalkan tembakau, tetapi mereka bukan sebagai agen pembudidaya tembakau, tercatat bahwa pada masa kolonial Hindia Belanda lah tembakau untuk pertama kali di budidayakan di Deli, Sumatera Utara yaitu sekitar 1954. Kemudian tembakau mulai di perhitungkan setelah adanya liberalisasi 1870 pada masa Hindia Belanda, perkebunan tembakau mulai bermunculan, kebanyakan tersebar di Rembang, Basuki, Kedu Semarang, Kediri, Banyumas, dan Probolinggo, sehingga ada dua jenis tembakau yaitu tembakau Jawa (Vorstenlanden), dan juga tembakau sumatera atau lebih dikenal dengan sebutan tembakau cerutu.

Kretek pertama kali di cetuskan oleh Haji Jamhari yang berasal dari Kudus, ketika itu Haji Jamhari menderita sakit dada, ingin sakitnya sembuh ia pun mencoba mengoleskan minyak cengkeh, dirasa sakitnya cukup berkurang ia mencoba mengunyah cengkeh itu, sakit di dadanya pun perlahan mulai hilang, kemudia Haji Jamhari berinisiatif untuk mencampur rajangan cengkeh dengan tembakau yang di bungkus daun jagung memakai tali benang. Ternyata cara tersebut efektif untuk menyembuhkan sakit dada yang dirasanya. Mulut ke mulut akhirnya rokok buatan Haji Jamhari pun terkenal. Mereka awalnya menyebut rokok klobot, namun lama kelamaan karena rokok kelebot ketika di bakar, timbul suara “kretek kretek” dari si cengkeh, sehingga sampai sekarang rokok tradisional itu disebut sebagai Kretek. Semenjak itu industri rokok mulai menjamur di Kudus, lalu berkembang ke luar Kudus seperti Tulungagung, Blitar, Dan Malang.

Selain itu wilayah pembudidayaan tembakau di Jawa seperti yang disebutkan di atas juga mulai membuka industri kretek. Dari sanalah kretek mambentuk suatu budaya kebiasaan baru di kalangan masyarakat Indonesia, bahkan sampai sekarang ini.

sumber gambar : manfaatrokok.wordpress.com