Cokek : Seni Tari Warisan Cina Peranakan

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Para penari cokek itu rambutnya dicocong (dikepang) lalu mereka menggunakan ciang hi, yaitu pakaian yang banyak digunakan oleh perempuan Cina.
Ya, cokek memang digunakan sebagai sebutan para penyanyi yang merangkap penari perempuan. Mereka biasa dipanggil untuk memeriahkan sesuatu hajatan atau perayaan, selain menyanyi dan menari, para cokek juga biasanya membantu para tamu dalam perjamuan, seperti menuangkan minuman kedalam gelas, menambah nasi dan lauk pauk perasmanan. Tapi jangan salah meski begitu mereka melaksanakan pekerjaannya dengan luwes dan terlatih.
Tari cokek merupakan salah satu kebudayaan yang dibawa dan di kembangkan oleh para tuan-tuan Cina di Betawi. Dulu, tari cokek hanya dimainkan oleh masyarakat Betawi keturunan Cina. Kelompok-kelompok keseniannya dimiliki para cukong Cina Peranakan. Mereka bahkan membiayai penghidupan para seniman Gambang Kromong dan penari Coek dengan menyediakan perumahan tempat tinggal khusus bagi mereka.
Dalam memainkan tari cokek diiringi oleh orkes Gambang Kromong, sedang para penari wanitanya lebih dikenal dengan sebutan “wayang cokek”, para tamu atau penonton yang datang bisa ikut berjoget, lalu memberi saweran uang, dari hasil saweran itu pula para penari ini mencari selembar demi selembar rezeki.
Meski pada awalnya tari cokek hanya terbatas bagi mereka masyarakat Betawi peranakan Cina, namun seiring berjalannya waktu, tari cokek ini terus berkembang di masyarakat sebagai sebuah hiburan saat sedang pesta atau hajatan. Selain itu ciang hi dan kepangan yang sering digunakan berubah menjadi kebaya dan sanggul.
foto : otonomi.co.id
