Konten dari Pengguna

Dewi Sri dan Ritual Hasil Panen Melimpah di Jawa

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kepercayaan pada Dewi Sri dalam masyarakat Jawa, Nyai Pohaci Sanghiyang Asri dalam masyarakat sunda dan akrab disebut “Mbok Sri” adalah sosok Dewi Padi dalam cerita legenda Jawa, yang masih melekat dikalangan penganutnya.

Ia begitu dihormati sebagai pemberi berkah tanaman padi yang mereka panen. Dalam proses upacara tersebut, tersedia berbagai macam sesaji yang disiapkan seperti bubur bekatul, bubur beras (jenang lemu), sayur menir, ikan kering dibakar, nasi liwet, kinangan, kaca, air kendi dan bunga setaman.

Pematang sawah dipilih sebagai tempat yang tepat untuk melakukan proses upacara. Pada proses upacara, identik dengan kerumunan anak-anak. Sajian tersebut dibagikan kepada mereka. Setelah proses itu dilaksanakan, pemotongan satu genggam padi pun mulai dilaksanakan.

Menurut kepercayaan, segenggam padi tersebut yang mereka namakan “Mbok Sri” yang harus segera dibawa pulang. Kepercayaan tersebut membuat padi hasil potongan pertama dibungkus pakaian. Pakaian tersebut berwujud kain, selendang dan, tudung yang mereka bawa pulang menggunakan selendang. Pembawa “Mbok Sri” diam selama perjalanan berlangsung meskipun ditegur oleh siapapun.

“Mbok Sri” akhirnya tiba dirumah lalu segera ditempatkan dekat timbunan padi. Hal tersebut dilakukan agar “Mbok Sri” kerasan di rumah dan para pemilik sawah dapat selalu memenuhi lumbungnya. Para penganut aliran kepercayaan meyakini bahwa proses upacara tersebut sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang mereka dapatkan.

Sumber Tulisan : Trubus April 1979 Halaman 121-122

foto : .jurirakyat.net