Konten dari Pengguna

Di Afrika Barat Kuno, Garam Sama Berharganya dengan Emas

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Garam. Sumber: Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Garam. Sumber: Wikimedia Commons

Garam telah mendominasi ekonomi Afrika Barat sepanjang milenium ke-2 M baik dari segi produksi maupun perdagangannya. Tambang garam Idjil di Sahara adalah sumber komoditas berharga bagi Kekaisaran Ghana (abad 6-13 M) dan masih bertahan pada abad ke-15 Masehi. Garam di Afrika Barat berbentuk batangan seperti bata dan ada juga berupa potongan kecil seperti batu

Pada abad ke-10 M, Sanhaja Berber menguasai tambang garam di Awlil dan Taghaza. Mereka mulai menantang monopoli perdagangan Kerajaan Ghana. Pada abad ke-11 M, tambang Awlil berada di tangan Takrur. Dan Kekaisaran Mali (1240-1645 M), dengan ibukotanya di Niandi mendominasi perdagangan garam sub-Sahara setelah runtuhnya Kekaisaran Ghana.

Sumber: Wikimedia Commons

Pelabuhan sungai seperti Timbuktu mulai mencari peluang perdagangan dari raja-raja Mali. Kerajaan berikutnya yang mendominasi wilayah dan pergerakan garam adalah Kerajaan Songhai (abad 15-16 M) dengan ibu kota perdagangannya yang besar di Gao.

Garam merupakan komoditas yang bernilai tinggi bukan karena tidak dapat diperoleh di wilayah sub-Sahara. Tetapi karena terus dikonsumsi dan jadi pasokan yang tidak pernah dapat memenuhi permintaan. Ada juga alasan bahwa komoditi garam itu membutuhkan biaya lebih untuk diangkut dalam jumlah yang banyak dan membuat harganya makin tinggi.

Akibatnya tingginya nilai ekonomi garam di Afrika Barat pada masa lampau, menyebabkan garam sangat sering ditukar dengan emas. Di beberapa daerah pedesaan, potongan kecil batang garam digunakan sebagai mata uang dalam transaksi perdagangan.

Sumber: Wikimedia Commons

Raja-raja Ghana menyimpan timbunan garam di samping bongkahan emas untuk mengisi perbendaharaan kerajaan mereka. Perpindahan barang berharga seperti gara, dari satu pedagang ke pedagang lainnya memberikan banyak kesempatan untuk meningkatkan nilainya semakin tinggi dari sumbernya di Sahara.

Saat ini, perdagangan garam Afrika Barat terus berlanjut. Tetapi kejayaan nilai ekonomis garam sudah berkurang dan para pedagang garam tidak dapat lagi menukarnya dengan emas sebagai gantinya. Komoditas garam Sahara dari Taoudenni masih diangkut oleh karavan unta Tuareg dengan lempengan garam seberat 90 kilogram yang pada akhirnya dikirim ke kilang Bamako di Mali.

Sumber: ancient.eu