Dikirimnya 60 Orang Calon Penerbang Indonesia Sekolah di Amerika 1950

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
cikal bakal pilot-pilot pertama Indonesia kala itu
Pentingnya tenaga-tenaga penerbang dan teknisi dalam tubuh Angkatan Udara suatu negara dapat dilihat dari pengalaman Jepang dalam perang Pasifik. Salah satu sebab kekalahan Jepang dalam perang Pasifik saat itu adalah Angkatan Udara Jepang banyak kehilangan tenaga-tenaga penerbang yang handal.
Para tenaga penerbang merupakan salah satu unsur yang terpenting, karena akan menjadi percuma secanggih apapun pesawat yang digunakan jika tidak ada yang mengendalikannya, termasuk juga berlaku pada AURI
Sebagai industri penerbangan yang baru lahir, dan merintis semuanya dari nol, AURI mulai memikirkan sumber daya manusia.
Seiring dengan perkembangan kekuatan AURI yaitu dalam hal modernisasi persenjataan maka AURI mengirim para perwiranya untuk dilatih menjadi penerbang di luar negeri antara lain di India, Amerika, Inggris dan Uni Soviet.
Pengiriman kadet ke luar negeri itu disebabkan karena hampir semua peralatan persenjataan modern yang dimiliki AURI adalah berasal dari luar negeri. Kemajuan-kemajuan dalam teknologi penerbangan membutuhkan peningkatan penguasaan jenis-jenis pesawat terbang, alat-alat perlengkapannya dan kehandalan penerbang.
Yang paling jadi sorotan publik waktu itu adalah dikirimkannya 60 calon pilot Indonesia ke TALOA Acedemy of Aeronautics yang berlokasi di Bakersfield, California. Setelah Kementerian Pertahanan RI membuka pendaftaran untuk calon pilot lewat pengumuman tertanggal 25 Juli 1950.
Antusiasme publik ternyata amat tinggi, dan ratusan pemuda mendaftar. Setelah diseleksi lewat ujian tertulis ilmu pasti, ilmu alam, bahasa Inggris, tes kesehatan, dan wawancara, terpilihlah 60 orang kadet (calon penerbang)
Setelah menyelesaikan pendidikan selama kurang lebih setahun, 40 kadet dipulangkan ke Indonesia, sementara 20 yang lain melanjutkan studinya yang berlangsung selama 6 bulan untuk dilatih menjadi instruktur penerbangan.
Baru pada Juli 1952, semua kadet kembali ke Indonesia. Selanjutnya mereka menjalani profesi yang berbeda-beda; ada yang berkarir di militer dan ada pula yang memilih jalur penerbangan sipil dan bekejra di sektor swasta. ke-60 orang itu merupakan cikal bakal pilot yang berjasa mengembangkan dunia kedirgantaraan Indonesia.
Kisah para ke-60 pilot ini juga diabadikan dalam buku Kepak Sayap the 60 Taloans: Sebuah Kilas Balik
foto : detik.com
