Dinasti Saffariah, Pemberontak dalam Kekuasaan Dinasti Abbasiyah

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dinasti Saffariah didirikan oleh Ya’kub Ibn Al-Laits, yang berasal dari keluarga pengrajin tembaga di Sijistan. Ia ahli dalam mengolah tembaga, dan juga terkenal sering melakukan kejahatan, walaupun dermawan terhadap kaum fakir dan miskin.
Ya’kub mendapat simpati dari pemerintah Sijistan karena dinilai memiliki keberanian, sehingga ia ditunjuk untuk memimpin pasukan memerangi para pemberontak di wilayah Abbasiyah bagian timur, khususnya Sijistan.
Dinasti Saffariah hanya bertahan selama 21 tahun, lebih singkat jika dibandingkan dengan Dinasti Thahiriyah. Namun walaupun singkat, wilayah kekuasaan Dinasti Saffariah sangat luas.
Selama Ya’kub menjadi panglima perang, ia berhasil mengalahkan banyak pemberontak dalam waktu yang singkat. Ia pun kemudian melakukan sebuah serangan ke wilayah Khurasan untuk merebut wilayah itu dari tangan Dinasti Thahiriyah. Ya’kub dan pasukannya melanjutkan ekspansinya menguasai kota Harat, Busang, dan sisa-sisa kekuasaan Dinasti Thahiriyah.
Ya’kub Ibn Al-Laits melanjutkan ambisinya memperluas wilayah kekuasaannya dengan gerakan-gerakan yang cukup kejam, yaitu dengan menghancurkan penguasa-penguasa di wilayah yang ingin dikuasainya.
Ya’kub mulai diperingati oleh penguasa Abbasiyah, namun ia tidak menghiraukannya. Ya’kub dan pasukannya malah melakukan pembangkangan terhadap khalifah di Baghdad. Ia melanjutkan gerakannya sampai ke wilayah Persia dan Irak.
Dinasti Saffariah dikenal sebagai dinasti yang dipimpin oleh para bandit, dan perlaku yang mereka perlihatkan mengarah kepada hal-hal yang radikal. Kerasnya sikap Dinasti Saffariah menentang segala larangan dan kebijakan Khalifah Abbasiyah, memperlihatkan bahwa kekuasaan Abbasiyah mulai menunjukan kelemahannya.
Dinasti Saffariah memiliki pasukan yang sangat kuat, sehingga para penguasa Abbasiyah khawatir dengan gerakan-gerakan mereka yang akan mengancam kestabilan di wilayah kekuasaan Abbasiyah. Akhirnya khalifah Al-Mu’tamad menyerahkan sebagian kekuasaannya kepada Ya’kub, meliputi wilayah Khurasan, Tibrasan, Jurjan, dan Ar-Ra.
Ya’kub memimpin Dinasti Saffariah kurang lebih selama 11 tahun. Setelah ia wafat, kepemimpinan Dinasti Saffariah diserahkan kepada saudaranya, Amr Ibn Al-Laits. Sikap pemimpin baru itu ternyata tidak sekeras Ya’kub.
Amr Ibn Al-Laits, sesaat setelah dilantik, mengirimkan sebuah surat kepada penguasa Abbasiyah, yang intinya akan mengikuti seluruh arahan yang diberikan oleh khalifah untuk wilayah kekuasaanya. Hubungan antara Baghdad dan Saffariah pun terlihat mulai membaik. Namun, oleh para ahli hubungan ini dinilai sebagai strategi yang dilakukan oleh Abbasiyah agar Dinasti Saffariah tidak memberikan masalah lebih jauh.
Dinasti Abbasiyah kemudian menghapus beberapa wilayah kekuasaan Saffariah, seperti Khurasan yang diberikan kepada Mahmud bin Thahir. Ketika Dinasti Abbasiyah dipimpin oleh Al-Mu’tadid, Dinasti Saffariah tetap diakui kekuasaannya, namun hal itu mendapat penentangan dari para petinggi Baghdad.
Kekuasaan Dinasti Saffariah kemudian silih berganti di antara keturunan Ya’kub. Hingga akhirnya berakhir setelah munculnya pemberontakan dari pengikut Amr Ibn Al-Laits terhadap, As-Sabakri, terhadap penguasa Dinasti Saffariah.
Sumber: Supriyadi, Dedi. 2016. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia.
Foto: en.wikipedia.org
