Konten dari Pengguna

Dinasti Thahiri, Suksesor Dinasti Abbasiyah dalam Membangun Kekuasaan

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dinasti Thahiri didirikan oleh Thahir Ibn Husain, seorang Persia yang lahr di desa Musanj dekat Marw. Ia pernah menjabat sebagai panglima pasukan pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun.

Thahir telah banyak membantu Al-Ma’mun dalam mengadapai kekuasaan Khalifah Al-Amin dan melawan pemberontakan yang dilakukan kaum Alwiyin di Khurasan.

Thahir kemudian dipercaya sebagai gubernur untuk wilayah Mesir, dan akhirnya dapat mengendalikan wilayah timur kekuasaan Khalifah Al-Ma’mun.

Setelah Thahir Ibn Husain wafat, jabatan gubernur dilanjutkan oleh putranya, yakni Thalhah Ibn Thahir, yang menjabat selama 6 tahun. Kemudian kekuasaan berpindah kepada penerusnya, yaitu Abdullah Ibn Thahir, yang berkuasa selama 35 tahun.

Ketika memegang pemerintahan setingkat gubernur, Dinasti Thahiri selalu melakukan hubungan baik dengan pemerintahan Abbasiyah di Baghdad.

Khalifah Al-Ma’mun menaruh kepercayaan yang sangat besar terhadap penguasa dari keturunan Dinasti Thahiri, sehingga wilayah kekuasaan Abdullah Ibn Thahir diperluas hingga ke daerah Suriah dan Jazirah.

Kekuasaan Abdullah Ibn Thahir mulai dikurangi oleh Khalifah Al-Ma’mun setelah mengetahui bahwa gubernur Khurasan itu lebih cenderung memihak kepada keturunan Ali bin Abi Thalib dibandingkan Dinasti Abbasiyah.

Kekuasaan Khurasan kemudian dilanjutkan oleh Muhammad Ibn Thahir. Ia menjadi penguasa terakhir dari keluarga Thahiri, karena wilayah Khurasan diambil alih oleh keluarga Saffari melalui pemberontakan. Keluarga Saffari sendiri diketahui sebagai saingat keluarga Thahiri di Sijistan.

Walaupun beberapa wilayah kekuasaannya telah dikurangi oleh khalifah, Dinasti Thahiri tetap memperluas kekuasannya dengan cara mempertahankan hubungan baik dengan Dinasti Abbasiyah.

Keturunan Thahiri selalu membantu menjalankan kekuasaan Abbasiyah sehingga masih diberi kepercayaan mengelola wilayah-wilayah kecil Dinasti Abbasiyah. Namun, penguasa Abbasiyah mulai mengalihkan perhatiannya kepada keluarga Saffari setelah kekuatan Dinasti Thahiri di Khurasan mulai melemah. Hingga akhirnya Dinasti Thahiri berakhir.

Para ahli sependapat bahwa Dinasti Thahiri telah memberikan sumbangan dalam kemajuan ekonomi, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan dunia Islam. Mereka berhasil membangkitkan Kota Naisabur sebagai salah satu pusat perkembangan ilmu dan kebudayaan di timur.

Pada masa pemerintahan Dinasti Tahiri, wilayah Khurasan dalam keadaan yang makmur dengan pertumbuhan ekonomi yang baik, serta ilmu pengetahuan yang berkembang pesat.

Dinasti Thahiri menjadi keluarga yang berjasa dalam pembangunan wilayah Dinasti Abbasiyah. Mereka dapat diandalkan oleh Khalifah Abbasiyah untuk menjaga ketentraman dan kemajuan dunia Islam.

Dinasti Thahiri berhasil mengusai dan meyakinkan para penguasa di wilayah Turki untuk menyatakan kesetiannya sebagai umat Islam yang tunduk pada kekuasaan Khalifah Abbasiyah.

Sumber: Supriyadi, Dedi. 2016. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia

Foto: en.wikipedia.org