Konten dari Pengguna

Diskriminasi Protestan Inggris Masa Pemerintahan Ratu Mary

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mary Tudor merupakan ratu Inggris pertama yang berkuasa sesuai dengan haknya sebagai pewaris sah takhta kerajaan Inggris. Selama masa pemerintahannya, terjadi banyak diskriminasi dan kekerasan yang dialami kaum Protestan, sehingga ia pun mendapat julukan sebagai “Mary Berdarah”.

Sebagai anak perempuan dari Henry VIII dan Catherine the Aragon, Mary harus meninggalkan statusnya sebagai putri kerajaan setelah perceraian yang dialami orang tuanya pada 1533. Ia bahkan menyebut dirinya sendiri sebagai anak tidak sah dari King Henry.

Kehidupan sempurnanya sebagai bangsawan kerajaan harus terancam setelah ia kehilangan pengaruhnya di dalam istana. Mary juga dipaksa meninggalkan keyakinannya sebagai penganut agama Katolik. Namun meski demikian, ketaatannya membuat ia terus mempraktekan ajaran agamanya walau secara sembunyi-sembunyi.

Saat saudaranya, Edward VI, meninggal dunia, para pemberontak Protestan menempatkan Lady Jane Gray sebagai penguasa baru Inggris. Mary pun terpaksa meninggalkan istana, dan bersembunyi di Norfolk untuk menghindari penyerangan yang dilakukan oleh pasukan Protestan.

Setelah beberapa waktu berada dalam pelarian, Mary kembali ke London, untuk memulai pergerakan menduduki takhta, karena sebenarnya ialah pewaris sesungguhnya kerajaan Inggris. Kemunculan Mary membakar semangat para pendukungnya untuk menduduki takhta kerajaan.

Lady Jane Gray –yang dijuluki Ratu Sembilan Hari– diturunkan dari takhtanya setelah memerintah selama dua minggu. Ia bersama suaminya, Dudley, dijatuhi hukuman mati.

Segera setelah penobatan, Mary membuat kebijakan untuk memperkuat kembali posisi Gereja Katolik di Inggris, yang telah dilarang sejak pemerintahan Henry VIII. Saat ia hampir menikahi Raja Philip dari Spanyol, terjadi pemberontakan Protestan di Kent, dipimpin oleh Sir Thomas Wyatt.

Mengetahui hal itu, Mary segera membentuk pasukan untuk menghentikan pemberontakan di Kent. Ia pun memberikan pidato di depan rakyatnya untuk mendukung dirinya menumpas pergerakan kaum Protestan tersebut. Akhirnya pemberontakan itu dapat dihentikan, dan Wyatt dihukum mati.

Mary kemudian menikahi Philip, dan kekuatan Katolik di Inggris semakin besar. Sekitar 300 orang Protestan dibakar di tiang eksekusi, di hadapan rakyat Inggris. Hal itu sebagai bentuk penegasan bahwa Katolik sebagai agama sah dari pemerintahan Mary di Inggris.

Perinkahannya dengan Philip dari Spanyol, membuat Inggris terlibat perang dengan Prancis. Perang itu membuat Inggris kehilangan Calais, daerah yang berbatasan dengan Prancis.

Akhir kekuasaannya, Mary dibenci oleh rakyat Inggris. Pada 17 November 1558, ia meninggal dunia, dan takhta Inggris digantikan oleh saudaranya, Elizabeth I, seorang penganut Protestan.

Sumber : Luka, Monsanto. 2008. Tangan Besi : 100 Tiran Penguasa Dunia. Yogyakarta : Galang Press