Dua Situs Arkeologi Bersejarah di Afrika Selatan

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sterkfontein dan Swartkrans adalah dua situs arkeologi yang menyimpan banyak bukti sejarah di Afrika Selatan.
Sterkfontein yang berarti “mata air yang deras”, merupakan rangkaian gua kapur yang berada di Gauteng, sebelah barat laut Johannesburg, Afrika Selatan. Daerah Sterkfontein menjadi tempat penelitian untuk para ahli paleo-antopologi karena di tempat itu ditemukan sejumlah fosil manusia purba dari kelas Homo yang pertama. Ditetapkan sebagai situs peninggalan dunia oleh UNESCO tahun 2000, Sterkfontein dikenal sebagai Cradle of Humankind (Buaian Umat Manusia).
Penemuan fosil di Sterkfontein pertama kali terjadi pada 1890 ketika para penambang kapur sedang melakukan penggalian. Penggalian oleh para ahli mulai dilakukan pada 1936, setelah sebelumnya dilakukan penelitian mengenai pergerakan sejarah di daerah tersebut. Penelitian pertama dilakukan oleh Profesor Raymond Dart dan Dr. Robert Broom dari University of the Witwatersrand. Penelitian itu berhasil menemukan fosil manusia Australopithecus dewasa, yang merupakan nenek moyang dari umat manusia.
Penggalian di Sterkfontein sempat dihentikan akibat bergejolaknya Perang Dunia II, dan dilanjutkan pada 1947. Dr. Broom kemudian berhasil menemukan fosil manusia yang cukup lengkap dari manusia Austropithecus africanus dewasa berjenis kelamin wanita. Fosil manusia tersebut oleh Dr. Broom diberi nama Plesiantropus transvaalensis. Manusia tersebut diperkirakan hidup pada 2,6-2,8 juta tahun yang lalu, berasal dari zaman Pliocene.
Selain Sterkfontein, terdapat gua tempat peninggalan arkeologi lainnya, yaitu Swartkrans. Di tempat ini ditemukan banyak fosil manusia dari jenis Australopithecus robustus. Dr. Broom pada 1948 menemukan tulang rahang manusia yang berbeda dengan struktur tulang sebelumnya di Sterkfontein. Kemudian Dr. Broom menyadari jika temuan barunya tersebut bukan dari jenis manusia yang sama dengan penemuan yang sebelumnya, dan akhirnya mengklasifikasikan ke dalam kelas robustus.
Fosil di Swartkrans diperkirakan berusia 1,5 sampai 2 juta tahun yang lalu. Selain fosil manusia purba, para peneliti di Swartkrans menemukan peralatan batu berupa kapak yang dipahat kasar. Kapak tersebut diduga digunakan oleh manusia Australopithecus sebagai alat untuk berburu.
Hingga saat ini penggalian di Swartkrans dan Sterkfontein masih terus dilakukan untuk mencari bukti-bukti baru terkait keberadaan nenek moyang manusia yang hidup sekarang.
Sumber : Riyanto. 2013. Warisan Dunia Mengenal Sejarah Dunia. Platinum.
