Konten dari Pengguna

Fenomena Punk: Golongan Masyarakat ‘Teralienisasikan’

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Golongan masyarakat dibalik budaya punk adalah anak-anak muda pekerja kelas bawah, seperti buruh yang merasa kecewa dengan penurunan moral pemerintah dan masyarakat budaya mainstream juga keterpurukan ekonomi yang berkepanjangan yang dikenal dengan punker, menggambarkan kondisi subkultur Punk yang berkembang di Inggris pada era tahun 1970-an.

Ideologi yang punker usung adalah anti-kemapanan, mereka ingin hidup mandiri dan tanpa tergantung dengan budaya kapitalis yang diusung oleh golongan atas. Kemunculan subkultur ini berawal dari sebuah aliran musik, yakni punk rock, sebuah genre dari musik rock. Musik punk ini lahir dari sebuah kejenuhan para musisi rock yang menganggap musik rock telah kehilangan esensinya.

Mereka para penggiat industri musik dianggap lebih mementingkan keuntungan yang mereka dapat, sehingga banyak kalangan yang mengatakan kalau musik punk atau biasa disebut punk rock ini dijuluki sebagai musik rock beraliran kiri, karena lirik lagu mereka berbeda dari biasanya, golongan ini secara gamblang menentang kekuasaan kapitalis.

Pemberontakan musikal yang mambagi rock ke dalam bentuk mentah dengan wujud punk rock mengubah hantaman politik menjadi gerekan politik dan komoditas hot topic. Dari gerakan inilah punk kemudian menjelma menjadi suatu gerakan baru yang mengguncang dunia barat, Amerika Serikat dan Inggris dengan lirik-lirik lagu yang mereka ciptakan. Gerakan inipun kemudian sampai juga diindonesia walau hanya gaya berpakaian saja yang diadopsi pada saat itu.

Meskipun punk lahir dari orang-orang marjinal yang merasa teralienisasikan dan pihak yang menentang kapitalisme dengan bentuk ekspresi yang lebih frontal dan bebas, nyatanya golongan ini hampir tidak pernah di lihat dari sudut pandang yang lebih positif. Padahal gerekan ini mampu mengebrak dunia dengan pandangan-pandangan mereka sendiri dalam menanggapi segala persoalan kehidupan, baik dalam politik, ekonomi, sosial dan budaya, serta agama sekalipun tak luput dari pandangan mereka, hanya saja mereka lebih senang menungkan pemikirannya dalam bentuk lirik-lirik lagu.

Sumber : Muhammad Fakhran Al-Ramadhan. 2012. Punk Diantara Dua Budaya: Kajian Ideologi Budaya Populer Dalam Dinamika Lokal-Global. Jakarta

foto : muzic2000.blogspot.co.id