Film-film Propaganda Jepang

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber foto: www.highsnobiety.com
Masuknya Jepang ke Indonesia pada 1942, mengubah hampir seluruh bidang menjadi militer sentris. Semuanya dibuat sebagai alat propaganda Jepang, termasuk di dalamnya bidang kesenian.
Industri perfilman kemudian hadir sebagai salah satu sasaran empuk untuk dijadikan media propaganda. Pada Oktober 1942 didirikan organisasi khusus untuk menangani film yang bernama Jawa Eiga Kosha (Perusahaan Film Jawa), dikepalai oleh S. Oya, seorang penulis Jepang terkenal yang menjadi kepala Keimin Bunka Shidoso.
Setelah itu bermunculan pula berdirinya Nippon Eiga Sha, yang dikenal dengan Nichi’ei, perusahaan ini sengaja didirikan agar bisa memonopoli distibusi film. Selain perusahaan film, peraturan mengenai kebijakan organisasi-organisasi tersebut di atur berdasarkan undang-undang film, yang dikeluarkan Departemen Dalam Negeri Jepang di Tokyo.
Peraturan perundang-undangan tersebut berisi mengontrolan atas perusahaan-perusahaan serta organisasi film yang dalam pembuatan filmnya harus menghilangkan ide-ide induvidualistik Barat, dan harus menyokong berbagai macam pesan propaganda Jepang.
Pada masa Hindia Belanda industri perfilman Indonesia sendiri ditandai dengan munculnya berbagai perusahaan swasta yang banyak terpengaruh dari Tiongkok, kita sebut saja Java Industrial Film (JIF) dan Tan’s film. Akan tetapi perusahaan-perusahaan itu harus turut serta di kebumikan oleh pemerintah Jepang.
Dalam hal ini, propaganda yang mereka lakukan, dengan jalan pemutaran slide tentang tentara Nippon, yang diputar sebelum pemutaran film cerita. Dengan begitu secara psikologis masyarakat Indonesia bisa terpengaruh. Karena fokuss orang Jepang hanya pada propaganda, pada akhirnya terjadi suatu kelangkaan film, dimana produksi film cerita sangatlah sedikit, sehingga pemutaran film seringkal dilakukan berulang-ulang di satu tempat.
Produksi film cerita baru benar-benar berjalan kembali pada 1943, itupun dengan jumlah yang bisa dihitung dengan jari. Propaganda Jepang tidak cukup hanya pada slide sebelum pemutaran film, tetapi juga masuk ke dalam film cerita, seperti pada film Berdjoang, dimana dalam film itu menceritakan tentang Anang yang rela meninggalkan keluarga di kampung halaman, untuk mengikuti Heiho berperang
Selain itu ada juga film produksi 1945 yang berjudul Koeli dan Romusha yang menceritakan bagaimana kuli pada zaman Belanda yang sangat teraniaya, sedangkan pada masa romusha yang dilakukan Jepang nasibnya menjadi lebih baik.
Propaganda itu semakin total, ketika film-fiilm yang didatangkan langsung dari Jepang, seperti Nankai no Hanataba (Bunga dari Selatan), Shogun to Sanbo to Hei (Jendral dan Prajurit), Singapore Soko Geki (Serangan atas Singapura), Eikoku Koezoeroeroe no Hi (Saat Inggris Runtuh) di putar secara terus menerus di Indonesia. Film-film propaganda tersebut kala itu cukup berpengaruh terhadap masyarakat Indonesia agar menjadi tentara Jepang.
Sumber : Jauhari, Haris (edt). 1992. Layar Perak. Jakarta: PT Penebar Surabaya
