Konten dari Pengguna

Funisia dan Pelayaran Pertama Manusia Membangun Hubungan Antarbangsa

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

ยทwaktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Relief yang menunjukkan armada kapal Fenisia, yang dikenal sebagai kapal kuda nil, mengangkut kayu melalui sungai dari Lebanon ke Khorsobad untuk pembangunan istana Sargon II, raja Asyur dari tahun 721 hingga 705 SM. Kapal-kapal tersebut mudah dikenali dari haluannya yang berbentuk kepala kuda. | Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Relief yang menunjukkan armada kapal Fenisia, yang dikenal sebagai kapal kuda nil, mengangkut kayu melalui sungai dari Lebanon ke Khorsobad untuk pembangunan istana Sargon II, raja Asyur dari tahun 721 hingga 705 SM. Kapal-kapal tersebut mudah dikenali dari haluannya yang berbentuk kepala kuda. | Wikimedia Commons

Belum berkembangnya teknologi, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan pada sebuah peradaban di masa lalu membuat manusia jarang melakukan kontak dengan bangsa lain selain bangsa-bangsa yang bedekatan secara geografis.

Kondisi tersebut terus berlanjut bahkan sampai lahirnya peradaban tinggi, seperti Mesir, maupun Mesopotamia. Orang-orang Mesir hanya membina hubungan dengan penduduk Nubia di sebelah selatan dan penduduk Mesopotamia di sebelah timur.

Sementara itu, Mesopotamia sendiri hanya berinteraksi dengan orang-orang Persia, dan budaya lain di sebelah utara maupun timur.

Meskipun kedua peradaban itu melakukan perjalanan yang cukup jauh sampai keluar wilayah kekuasaannya, namun dapat dipastikan bahwa mereka kurang berminat untuk membangun hubungan perdagangan, atau berdiplomasi dengan kerajaan baru di luar wilayah yang sudah mereka kenal.

Ilustrasi kapal Bangsa Funisia. | Wikimedia Commons

Namun, fenomena itu berubah ketika Bangsa Funisia mulai memberanikan diri keluar dari negerinya untuk berinteraksi dengan bangsa-bangsa yang jauh. Bangsa Funisia yang hidup di wilayah pantai timur dari Laut Tengah -sekarang Lebanon- memiliki peradaban yang berbeda dengan bangsa lainnya karena wilayahnya dikelilingi oleh laut.

Mereka pun akhirnya menjadi bangsa yang gemar untuk berlayar, dan berhasil mengembangkan peralatan pelayaran pertama, berupa perahu khas Bangsa Funisia.

Tak hanya pelayaran biasa, Bangsa Funisia pun menjadi kekuatan dagang maritim besar yang pertama muncul di dunia. Bangsa Funisia tercatat sebagai orang-orang pertama di Timur Tengah yang menjalin hubungan dengan bangsa Eropa.

Jalur kolonisasi oleh Bangsa Funisia dan Bangsa Yunani. | Ancient HIstory Encyclopedia

Pelayaran Bangsa Funisia menjadi sebuah titik balik dalam sejarah manusia, karena tanpanya kita mungkin tidak akan menemukan apa yang disebut jalur pelayaran, yang akhirnya akan menghubungkan seluruh bangsa.

Sebelum Bangsa Funisia, tidak ada bangsa lain yang dengan sengaja memperluas hubungan mereka dengan bangsa-bangsa terjauh, dalam hal ini wilayah di belahan bumi lain.

Armada laut Funisia mencakup kapal militer dan kapal dagang. Mereka berhasil menyambangi seluruh pelabuhan, baik kecil atau besar, di sepanjang Laut Tengah. Armada itu diketahui berlayar hingga Selat Jibraltar di Samudra Atlantik, mengunjungi pelabuhan-pelabuhan di Eropa Utara, dan menelusuri pantai Afrika.

Tidak hanya berdagang, Bangsa Funisia pun menjajah sejumlah wilayah, dari Siprus sampai Korsika, kemudian Spanyol. Pada 810 SM, bangsa Funisa berhasil menemukan Kartago, yang nantinya menjadi salah satu kota mandiri paling berkuasa di seluruh wilayah Timur Tengah.

Sebuah relief yang menggambarkan pelayaran Bangsa Funisia. | Wikimedia Commons

Selain dikenal sebagai pelaut yang handal, orang-orang Funisia juga mampu mengembangkan seni pembuatan barang-barang dari kaca. Mereka diakui sebagai pencipta keterampilan gelas tiup untuk berbagai jenis kerajinan.

Dalam sejarah, Bangsa Funisia merupakan orang yang pertama membuat barang pecah-belah dari kaca bening, dan tembus cahaya. Barang-barang itu pun menjadi salah satu elemen penting dalam hubungan perdagangan mereka.

*** Referensi:

  • https://www.worldhistory.org/