Konten dari Pengguna

Gagasan Anatomi Andreas Vesalius yang Menentang Dokter Besar Yunani

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Andreas Vesalius berasal dari keluarga dokter terpandang, yang telah diturunkan dari beberapa generasi, sejak kakek buyutnya. Sehingga, ia dibesarkan untuk mengikuti profesi keluarganya tersebut. Ayahnya merupakan seorang apoteker pribadi Kaisar Maximilian I dari keluarga Habsburg.

Sejak kecil, Vesalius dikenal sebagai seorang yang jenius, ia menyelesaikan pendidikan dokternya di dua universitas yang berbeda dalam waktu yang cukup singkat. Pertama-tama, ia menempuh pendidikan di University of Louvain, Belgia. Kemudian, ia melanjutkan studi kedokterannya di University of Paris, dan menyelesaikannya ketika masih berusia 20 tahunan.

Pada masa Vesalius tumbuh, para dokter banyak menggunakan karya-karya dokter terbaik Yunani, seperti Galen, sebagai rujukan utama untuk berbagai praktek yang dilakukan. Mereka sangat meyakini ketepatan karya Galen tersebut, sehingga tidak banyak menerima hasil penelitian lain, terutama dari para ilmuwan yang sezaman dengan mereka.

Tidak seperti para pendahulunya, Vesalius sedikit meragukan karya-karya filsuf Yunani itu. Ia juga mengatakan bahwa dirinya dapat mempelajari sistem anatomi lebih baik dari seorang tukang jagal, dibandingkan dari karya Galen tersebut.

Kecerdasan Vesalius terlihat tatkala ia melakukan penelitian langsung pada tubuh-tubuh manusia yang telah menjadi mayat. Bahkan, ketika berada di Louvain, ia mempelajari tengkorak manusia dari tulang-belulang seorang perampok yang digantung di luar kota. Ia menurunkan tengkorak itu, dan mempelajarinya, hingga ia mengetahui berbagai informasi mengenai anatomi manusia.

Pada 5 Desember 1537, Vesalius meraih gelar medisnya di Padua University, dekat Venice. Tidak lama setelah itu, ia mendapar gelar sebagai profesor anatomi dari universitas tersebut.

Vesalius menunjukkan kualitasnya sebagai seorang ahli anatomi. Ia mulai melakukan pembedahan secara mandiri, di mana hasil penelitiannya banyak diminati oleh berbagai kalangan. Ceramah-ceramah Vesalius menjadi sangat populer karena ia membuat alat peraga yang sangat baik, berupa gambar lengkap anatomi manusia hasil ciptaannya sendiri. Setiap ia mengadakan perkuliahan, ruangan tempatnya mengajar selalu dipadati oleh orang-orang yang penasaran dengan proses pembedahan yang ia lakukan.

Vesalius lalu menerbitkan sebuah buku berjudul The Fabric of the Human Body pada tahun 1543. Karya luar biasa itu terbagi menjadi tujuh jilid, dengan uraian yang sangat rinci dan ratusan ilustrasi untuk mempermudah para pembaca dalam memahami bukunya. Pembuatan ilustrasi pada bukunya itu dipercayakan pada seorang seniman muda, bernama Jan Stephen van Calcar.

Dalam bukunya, Vesalius menulis rincian hasil penemuannya sendiri, yang telah ia lakukan selama bertahun-tahun terhadap tubuh manusia. Selain itu juga, ia menulis ratusan koreksi dari kekeliruan yang ditemukan dalam buku-buku Galen. Vesalius pernah mengatakan bahwa teori-teori yang dikemukakan oleh Galen seluruhnya berasal dari proses pembedahan hewan, bukan merujuk pada anatomi manusia seperti yang ia lakukan.

Buku Vesalius itu mendapat banyak kritikan dari dokter-dokter di seluruh dunia, yang masih memegang konsep-konsep Galen. Jacques Sylvius, seorang ahli anatomi dari Paris, menyerang Vesalius dengan mengatakan bahwa bukunya adalah sebuah fitnah yang sangat kejam kepada Galen.

Ketika menerbitkan bukunya itu, Vesalius masih berusia 28 tahun, sehingga terlihat jelas bagaimana kualitas dan kejeniusan tokoh ini. Banyaknya serangan yang ditujukan kepada karya-karyanya, tidak membuat Vesalius berhenti untuk melakukan penelitian mengenai anatomi.

Namun, ia mulai mengurangi porsi untuk mengajar di sekolah-sekolah karena ia ditunjuk sebagai dokter istana Habsburg, pada masa pemerintahan Charles V, putra Maximilian I, tempat ayahnya melakukan pengabdian yang sama.

Pada 1564, Vesalius pergi ke Yerusalem. Tidak ada yang mengetahui maksud sebenarnya ia pergi ke tempat itu. Beberapa pihak mengatakan bahwa kemungkinan besar ia melakukan ziarah untuk menenangkan dirinya. Tragisnya, dalam perjalanan pulang, Vesalius meninggal dunia setelah kapalnya karam di Pulau Zacynthus, Yunani.

***

Sumber: Tiner, John Hudson. 2005. 100 Ilmuwan yang Berpengaruh di Dalam Sejarah Dunia. Tangerang: Karisma

Foto: Wikimedia Commons