George Eastman dan Revolusi Dunia Fotografi

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
George Eastman dilahirkan di Waterville, sebuah kota kecil dekat New York, Amerika Serikat, pada 12 Juli 1854. Ia berasal dari keluarga kaya di kotanya, yang menjalankan bisnis penitipan anak. Ketika berusia 6 tahun, George Eastman pindah ke Rochester karena ayahnya membuka sekolah bisnis di kota tersebut. Namun baru 2 tahun pindah, ayahnya mendadak meninggal, dan keluarga Eastman jatuh miskin.
George Eastman, yang semasa sekolah tidak terlalu pintar, kemudian harus menjadi tulang punggung keluarga. Ia bekerja di beberapa perusahaan asurasi, hingga pada usia 24 tahun ia bekerja sebagai pegawai junir di Rochester Savings Bank. Eastman merasa bahwa kehidupan keluarganya akan berubah setelah ia bekerja di bank tersebut. Namun ia mungkin saja keliru, perubahan terbesar dalam hidupnya terjadi setelah secara tidak sengaja dirinya memasuki dunia fotografi.
Pertemuannya dengan bidang fotografi membuat dirinya menjadi terkenal dan kaya, peruntungan itu terjadi saat dirinya hendak melakukan perjalanan ke Santo Domingo, Kepulauan Karibia. Rekan kerjanya menyarankan Eastman untuk mendokumentasikan perjalanannya melalui foto. Ketika itu, peralatan fotografi sangat sulit dibawa karena ukurannya yang besar, dan prosesnya pengerjaannya pun yang cukup rumit. Awalnya ia ragu, tetapi karena cukup penasaran ia pun akhirnya membawa peralatan fotografinya.
Dari situlah Eastman mulai tergila-gila dengan dunia fotografi. Ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya, dan melakukan berbagai eksperimen demi menciptakan peralatan fotografi yang sesuai dengan keinginannya. Setelah melakukan berbagai percobaan, ia menemukan resep emulsi untuk fotografi pelat kering, yang segera dipatenkan. Pada 1880, dengan dana dari tabungan pribadi dan hasil penjualan hak paten, ia mulai memproduksi pelat fotografi kering dan menjualnya di Rochester.
Eastman mendapat dukungan dana dari Henry Strong, seorang pengusaha pembuat cambuk kereta kuda. Henry Strong kemudian menjadi mitra George Eastman dalam pengembangan peralatan fotografi. Penjualan pelat-pelat kering itu awalnya berjalan sukses, namun sempat mengalami kemunduran karena ada kesalahan dalam proses pembuatan. Eastman lantas melakukan percobaan lain untuk memperbaiki kesalahannya.
Dia semakin berambisi untuk menciptakan peralatan fotografi yang sederhana dan mudah untuk digunakan, tidak seperti kamera pada zamannya. Estman mulai menyempurnakan pembuatan film pada kamera. Pada 1888, dirinya berhasil menciptakan sebuah kamera ringan dan sederhana, yang diberi nama “Kodak”. Semua orang bertanya apa arti dari kata itu, namun Eastman hanya mengatakan bahwa dirinya suka dengan huruf “K” dan mencoba berbagai kombinasi huruf yang diawali dan diakhir huruf “K”, hingga akhirnya tercipta kata Kodak.
Dia telah benar-benar mengubah dunia fotografi menjadi lebih mudah. Jika sebelumnya hanya sebagian orang saja yang dapat mengoperasikan kamera, maka kali ini setiap orang dapat menggunakannya. Kamera temuan George Eastman dengan cepat disenangi oleh masyarakat. Nama Kodak bahkan menjadi semacama kata generik untuk penyebutan kamera. Setelah penemuan Kodak, ia banyak menyumbangkan karya lain dalam bidang fotografi.
Walau telah menjadi tenar dan kaya, Eastman tetap menjadi pribadi yang dermawan. Ia menyumbangkan hampir sebagian besar pendapatannya untuk berbagai kegiatan sosial. Perusahaannya pun menjadi salah satu perusahaan pertama yang menjalankan sistem pendapatan pensiun bagi karyawannya. Sekitar tahun 1930-an, kesehatan George Eastman mulai menurun. Setelah membacakan surat wasiat untuk keluarganya pada 14 Maret 1932, George Eastman menembak dirinya sendiri di rumahnya.
Sumber: Susanto, Ready. 2011. 100 Tokoh Abad ke-20 Paling Berpengaruh. Bandung: Nuansa
Foto: fotographiaonline.com
