Konten dari Pengguna

Hari ini, 76 Tahun Silam Virginia Woolf Menenggelamkan Dirinya

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sastrawan terkemuka Inggris dengan nama lengkap Adeline Virginia Woolf itu memilih menenggelamkan dirinya di sungai Oase

Lahir di London, pada 25 Januari 1882, putri dari pasangan Leslie dan Julia Stephen. Ayahnya adalah seorang kritikus, cendikia, penulis biografi, dan ahli filsafat. Ia dibesarkan dalam lingkungan yang bergaul luas dengan intelektual dan tokoh perting zaman Victoria, ia banyak berlajar dan membaca dari perpustakaan ayahnya yang luar biasa. Woolf hidup dikalangan sastrawan dan seniman, sehingga memungkinkan menciptakan karya avant-garde di zamannya dengan teknik pencitraan yang dikenal istilah stream of consciousness (arus kendaraan) atau dialog batin, yang pertama kali diperkenalkan William James.

Kegelisahaan akan kehidupan yang selalu ia ungkapkan dalam karyanya menjadi pemicu lahirnya karya-karya eksperimental yang mendobrak nilai-nilai yang telah mapan, baik itu bersifat normatif, atau tidak. Hal tersebut melahirkan interpretasi baru terhadap segala hal, termasuk terhadap dunia kepenulisan, terutama tulisan fiksi yang telah lama digelutinya.

Dua karya pertamanya, The Voyage Out (1915) dan Night and Day (1919) masih bersifat novel tradisional. Dia mulai menemukan gaya yang stabil dan asli seperti karyanya Jacob’s Room (1922), Mrs. Dalloway (1925). Puncak karya avant-garde-nya terlihat jelas dalam To The Lighthouse (1927), dan The Waves (1931). Serta Orlando (1928), dan "the book-length essay A Room of One's Own" (1929), dengan diktum terkenal, "Seorang wanita harus memiliki uang dan ruang sendiri jika ia menulis fiksi."

Karyanya diakui sebagai selah satu pencetus gerakan sastra modern pada abad ke-20. Bahkan pada lima tahun terakhir BBC merilis 100 novel Inggris yang berpengaruh terhadap dunia, tiga diantaranya adalah novel Woolf. Dimana Orlando (1928) berada di posisi 65, The Waves (1931) posisi 16, sedang Mrs. Dalloway (1925) serta To The Lighthouse (1927) termasuk jajaran dua dan tiga, setelah yang pertamanya diambil oleh Middlemarch (1874) George Eliot. Sehingga tidak aneh bila ia dikatakan ‘Maestro’ sastra modern Inggris.

Kecemerlangan karyanya yang diakui dunia nyatanya tidak sejalan dengan kehidupan pribadinya Kematian ibunya yang mendadak pada 1895, saat ia berusia 13 tahun menbuatnya terpukul dan berdampak pada kerusakan saraf. Belum pulih benar dari trauma kematian ibunya tetapi ia mencoba hidup normal dan dapat menyelesaikan studinya dalam bahasa Yunani, Latin, Jerman dan sejarah di Departemen Ladies King College London 1897 dan 1901.

Cobaan hidupnya yan kedua datang saat kematian ayahnya pada 1904 ia mengalami depresi berat, ditambah lagi pengalamannya yang buruk dan tidak kalah dramatis, yaitu pelecehan seksual terhadap ia dan adiknya, Vanessa yang dilakukan oleh saudara mereka George dan Gerald.

Tekanan hidup yang tinggi akhirnya membawa ia pada momen membahagiakan Virginia memutuskan menikah pada 10 Agustus 1912 dengan seorang penulis, Leonard Woolf. Mereka menggeluti bidang yang sama, sehingga sering berkerja sama secara profesional, pada 1917 mereka mendirikan Press Hogarth.

Meski telah menikah dan membina mahligai rumah tangga, nyatanya tidak membuat depresi beratnya hilang, kegelisahaannya tentang kehidupan semakin menjadi, hingga akhirnya Pada 28 Maret 1941, Woolf berjalan ke Sungai Ouse dekat rumahnya dan menenggelamkan dirinya sendiri.

Kehidupannya yang tragis, nyatanya tidak membuat karya dan pemikirannya mati, ia tetap dikenang sebagai seorang perempuan yang pemkiran dan karyanya dibaca dan dikagumi orang hampir diseluruh dunia.

foto : fivebooks.com