Jejak Sejarah Islam Tua di Kepulauan Sangihe

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perlu dijelaskan lebih dahulu tentang istilah "Islam" dan "Tua" yang disematkan pada keyakinan agama itu. Kata "Islam" disematkan karena pemeluk agama ini meyakini kalau Allah itu satu dan Muhammad itu rasul Allah. Sementara "Tua" adalah kata untuk membedakan ajaran agama ini dengan pemeluk Islam kebanyakan. "Tua" juga mempunyai makna identitas sejarah. Pemeluk agama itu adalah warga asli Sangihe dan bukan pendatang.
Yang membedakan pemeluk agama ini dengan Islam kebanyakan adalah tata cara ibadahnya. Rumah ibadah mereka dinamakan Masjid tetapi bentuknya lebih menyerupai gereja karena ada lonceng untuk membunyikan tanda panggilan ibadah. Cara salatnya berbeda, mereka ada yang berdiri dan ada yang duduk membentuk lingkaran. Doa yang mereka lantunkan adalah doa dengan bahasa lokal. Sesekali terdengar lafal bismillah dan takbir Allahu Akbar.
Islam Tua dikenal dengan nama Islam Masade yang kebanyakan pemeluknya berada di Desa Lenganeng, Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara.
Tahun 1978, Kementerian Agama mengeluarkan keputusan tentang "Islam Tua" yang diaku sebagai bagian dari aliran kepercayaan yang pembinaannya berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Iklim Orde Baru yang cenderung memaksakan penggolongan memberikan nama pemeluk agama itu dengan sebutan Himpunan Penghayat Kepercayaan Masade.
Sejarah masuknya agama Islam mula-mula di Kepulauan Sangihe hingga saat ini masih bersumber pada sejarah lisan. Cerita tutur dari pemeluk agama Islam di Tabukan konon diperkenalkan oleh seorang yang berasal dari semenanjung Arab. Dia bernama Syarief Maulana Moe'min. Dia datang pada sekitar abad ke-15 Masehi.
Saat itu dia mendapat dukungan dari raja Kerajaan Lumauge yang bertempat di sebuah bukit di belakang Moronge. Kerajaan ini adalah satu-satunya kerajaan Islam di Sangihe yang merupakan bagian dari kekuasaan Kerajaan Tabukan.
Versi lain menyebutkan tentang berkembangnya Islam di Kerajaan Kendahar dengan rajanya yang bernama Syah Alam. Perdagangan dan kekerabatan yang dilakukan dengan kerajaan-kerajaan di sekitar kepulauan Sulu dan Mindanao ditengarai sebagai penyebabnya. Syah Alam ini lah yang dalam dialek lokal kemudian disebut sebagai Samangsialang.
Selama Samangsialang berkuasa muncul sosok bernama Imam Masade atau disebut dalam sebutan lokal Mawu Masade. Mawu sendiri adalah sebutan kehormatan tertinggi bagi orang suci. Mawu Masade juga muncul dalam sejarah tutur Kerajaan Ternate. Konon salah satu sahabat Masade yang bernama Pendeta Valentijn ditangkap oleh rakyat Ternate sebagai aksi balas dendam terhadap tindakan Portugis yang dianggap telah membunuh raja mereka, Sultan Hairun.
Setelah mengetahui hal itu Masade pun menyumpahi tanah Ternate dengan mengatakan setelah sembilan hari tanah Ternate akan dimurkai tuhan. Setelah kejadian itu lah Masade pulang ke Sangihe ke desa kelahirannya. Setelah dari tanah kelahirannya dia kemudian pergi ke Tugis (Sarangani-Filipina) dan mengajarkan ajarannya kepada muridnya yang bernama Penanging.
Para peneliti sejarah kebanyakan melihat proses yang terjadi dalam ajaran agama "Islam Tua" Sangihe sebagai bagian dari pengaruh Syiah yang kuat di awal masuknya Islam ke kepulauan Asia Tenggara.
Sebagaimana diketahui di sebagian wilayah pantai Barat Sumatra pengaruh ajaran Syiah dengan peringatan Tabuik setiap bulan Assyura adalah beberapa hal yang masih lestari. Daerah Tugis, Sarangani, Filipina, hingga saat ini diketahui sebagai salah satu tempat penyebaran Syiah.
Sumber:indonesia.go.id
