Konten dari Pengguna

John Calvin, dan Doktrin Teologi Eropa

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

John Calvin (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
John Calvin (Foto: Wikimedia Commons)

John Calvin dilahirkan di Kota Noyon, Prancis, pada 1509. Dia dilahirkan pada keluarga terpandang dan menerima pendidikan dengan baik. Setelah lulus dari Collegge the Maontaigu di Paris, John Calvin melanjutkan pendidikannya di Universitas Orleans untuk mempelajari ilmu hukum. Ia pun belajar mengenai hukum di Bourges.

Ketika Martin Luther melakukan penentangan terhadap gereja dan mengumumkan reformasi protestan, John Calvin baru berusia 18 tahun. John Calvin dibesarkan secara Katolik, namun ia beralih ke Protestan ketika usianya masih muda. Untuk menghindari hukuman yang sewaktu-waktu akan menimpanya, John Calvin memilih untuk meninggalkan Paris dan berkelana ke berbagai tempat.

Kemudian ia tinggal dan mempelajari teologi secara intensif di Basel, Swiss, di bawah bimbingan pseudonim. Pada 1536, ketika berusia 27 tahun, John Calvin menerbitkan sebuah tulisan berjudul “Institutes of the Christian Religion”. Bukunya itu merangkum inti ajaran Protestan dan ditampilkan dalam bentuk yang sistematis. Bukunya itu menjadi salah satu karya yang banyak dibaca oleh masyarakat dan sangat terkenal pada masanya.

Tahun 1538, John Calvin mengunjungi Genewa, Swiss, tempat perkembangan Protestan dengan cepat dan kuat di wilayah Eropa. Di sana ia diminta untuk menjadi guru dan pemimpin komunitas Protestan. Namun tak lama setelahnya konflik mulai muncul antara pengikut John Calvin dengan rakyat Genewa. Sebagai pemimpin komunitasnya, John Calvin dipaksa untuk meninggalkan Genewa. Tapi pada 1541, ia diundang kembali ke Genewa untuk menjadi pemimpin agama dan pemimpin politik setelah meredanya konflik di negeri itu.

Di bawah pimpinan John Calvin, Genewa menjadi pusat Protestan di Eropa. Ia pun mencoba menyebarkan ajaran Protestan ke beberapa negara, terutama Prancis. Salah satu hal yang dilakukan John Calvin ketika memimpin Genewa adalah membuat seperangkat peraturan gereja untuk gereja reformasi di sana. Peraturan yang dibuatnya itu menjadi dasar bagi peraturan di banyak gereja reformasi di Eropa. Selama di Genewa, John Calvin menulis berbagai tulisan mengenai agama dan memberikan banyak kuliah mengenai teologi dan injil.

Genewa menjadi tempat yang keras dengan aturan agama yang ketat di bawah pimpinan John Calvin. Tidak hanya pelacuran dan perzinahan yang dianggap sebagai tindakan kriminal serius, tetapi perjudian, minuman keras, tarian, dan nyanyian lagu kasar juga dilarang. Jika ada yang melanggar seluruh aturan yang dibuatnya maka ia akan diganjar dengan hukuman yang serius. Kehadiran di gereja pada waktu yang telah ditentukan diwajibkan secara hukum sehingga tidak ada yang boleh mangkir.

Pengaruh penting John Calvin bukan pada kegiatan politiknya, tetapi lebih pada ideologi yang dia sebarkan. John Calvin memberikan pengaruh yang besar pada dunia. Doktrin teologisnya telah banyak diterima oleh masyarakat dan membuat lebih banyak pengikut dibandingkan dengan Martin Luther. Para pengikut Calvinis tersebar di Swiss, Belanda, Polandia, Hungaria, Jerman, Inggris, dan Skotlandia. Pengaruhnya di berbagai negara telah melebih pengaruh Martin Luther pada masanya.

Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa doktrin-doktrin yang diajarkan oleh John Calvin merupakan faktor utama dalam penciptaan etika kerja Protestan, yang menjadi faktor kebangkitan kapitalisme. Pendapat tersebut mungkin tidak sepenuhnya benar, namun dalam beberapa praktik yang diajarkan oleh John Calvin memang mengarah pada praktik kapitalisme.

Sumber : Hart, Michael H. 2016. 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia. Jakarta : Noura.