kumparan
29 Mar 2019 19:04 WIB

Josephine, Cinta Sejati Kaisar Prancis

Marie-Josephine-Rose Tascher de La Pagerie, atau dikenal juga sebagai Rose, adalah cinta sejati Napoleon, yang konon namanya menjadi kata terakhir yang diucapkan Napoleon sebelum kematiannya di St. Helena.
ADVERTISEMENT
Dilahirkan di Martinique pada 1763, Rose merupakan putri seorang aristokrat terpandang dan pemilik perkebunan yang bangkrut. Ketika berusia 15 tahun, ia pindah ke Paris untuk menikahi seorang bangsawan dan perwira muda bernama Alexandre de Beauharnais.
Pasangan itu dikaruniai dua orang anak, Hortense dan Eugene, tetapi Alexandre yang malu akan logat kedaerahan dan ketidaktahuan istrinya akan kehidupan bangsawan di kota besar, menolak membawa Josephine ke istananya.
Pada 1785, pasangan itu bercerai. Sebagai seorang bangsawan, Alexandre dihukum penggal saat Prancis masuk dalam masa revolusi, sementara Rose dipenjara. Tak lama setelah dilepaskan, ia berhasil memikat seorang perwira muda, Napoleon Bonaparte.
Setelah menjalin hubungan cukup lama, akhirnya Napoleon mempersunting Rose pada 1796. Napoleon yang tidak suka dengan nama Rose, memanggil istrinya dengan nama Josephine.
ADVERTISEMENT
Awalnya, Josephine dikenal sebagai istri yang acuh. Surat-surat 'bergairah' yang ditulis oleh Napoleon sering kali tidak dibalas. Sewaktu Napoleon bertugas di Mesir, Josephine mulai bermain mata dengan perwira lain. Napoleon yang mengetahui hal itu mengancam akan menceraikannya, dan mulai berselingkuh juga.
Hubungan keduanya sebenarnya sempat retak, tetapi berkat putra Josephine, Eugene, yang menjadi raja muda di Italia di bawah naungan Napoleon, mereka pun memutuskan untuk tetap bersama.
Foto: Common.wikimedia.org
Ketika Napoleon menjabat sebagai konsul (1799-1804), Josephine memanfaatkan posisi sosial suaminya untuk menaikkan pamornya. Ia bersikeras agar mereka melakukan perayaan pernikahan lagi, dengan ritual agama pada malam penobatan Napoleon sebagai kaisar, dan dalam upacara besar di Katedral Notre Dame.
Gaya hidup mewah dan boros yang dilakukan Josephine, ditambah kegagalannya memberikan keturunan bagi Napoleon, semakin memperburuk hubungan pernikahan mereka.
ADVERTISEMENT
Pada 1809, Napoleon berencana membatalkan pernikahannya dengan Josephine. Alasannya adalah karena pastor paroki tidak hadir di pernikahan kedua mereka. Rencana itu mendapat persetujuan dari Josephine, sehingga secara pribadi mereka sama-sama menginginkan perceraian.
Napoleon kemudian menikahi Marie Louise, cucu Franz I dari Austria. Pernikahan mereka melahirkan seorang putra, yang nantinya menjadi pewaris Napoleon di Roma.
Setelah pembatalan pernikahannya, Josephine kembali ke rumah pribadinya di Malmaison, di luar Paris. Ia menyelenggarakan banyak jamuan di kediamannya dengan bantuan biaya dari Napoleon. Josephine masih belum bisa menghilangkan kebiasaannya berfoya-foya, walau sudah kembali ke kampung halamannya.
Setelah Napoleon digulingkan, Josephine didatangi oleh banyak orang, termasuk para pemimpin revolusi yang disokong oleh Tsar Alexander I dari Rusia, pesaing Napoleon. Mereka tidak ingin menghukum Josephine, tetapi hanya datang untuk mengagumi sosoknya.
ADVERTISEMENT
Walau mantan suaminya menghadapi banyak pertentangan, tetapi Josephine malah dicintai dan dihormati. Bahkan ketika kematiannya pada 1814, banyak orang yang meratapi kepergiannya.
Sumber: Montefiore, Simon Sebag. 2012. Pahlawan dalam Sejarah Dunia. Jakarta : Penerbit Erlangga
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan