Kajian Naskah Abad Pertengahan di Eropa dan Timur Tengah

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Abad pertengahan berlangsung kurang lebih selama lima abad, yaitu sekitar abad ke-10 hingga abad ke-15.
Saat itu, kegiatan mengkaji naskah di Eropa pada abad Pertengahan terpusat pada teks-teks Yunani. Kegiatan tersebut nampaknya terjadi dalam kurun waktu yang cukup singkat, lantaran penggunaan bahasa-bahasa daerah di kawasan Eropa sangat terbatas untuk kegiatan menyalin teks berbahasa Yunani. Masyarakat di beberapa daerah kecil masih dianggap primitif. Hingga akhirnya terjadi peningkatan penyebaran agama Nasrani, yang membuat para pengguna bahasa daerah di beberapa kawasan Eropa memberikan perhatian.
Bahasa-bahasa daerah digunakan untuk menyalin keterangan dalam kitab Injil agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat. Penulisan kitab Injil diawali dengan munculnya terjemahan dalam bahasa Gotis oleh Uskup Wulfika. Kemudian disusul oleh beberapa terjemahan dalam bahasa Keltis, Inggris Kuno, Saksis Kuno, Jerman Kuno, Slavia Kuno, serta bahasa Kopt dan Armenia. Kegiatan menyalin teks kitab Injil tersebut dianggap sebagai langkah yang sangat efektif untuk menyebarkan agama Nasrani.
Di Eropa Utara abad ke-12 dan abad ke-13 ditemukan teks-teks berbahasa Nur Kuno peninggalan bangsa Keltis di Irlandia dan Wales. Pada abad ini juga ditemukan sistem Skolastik, yaitu sebuah metode dalam mempelajari teks-teks yang diperoleh di biara-biara melalui rapat-rapat pemuka agama. Sistem pengkajian naskah mulai mengalami kemajuan selama abad Pertengahan ini, salah satunya terlihat dari didirikannya universitas-universitas yang khusus mengkaji mengenai teks. Seperti di Kota Paris didirikan universitas dengan nama “Kota Athena dalam Abad Pertengahan”, yang dimulai pada 1253.
Bahasa Romawi semakin mendapatkan perhatian dan bekembang menjadi bahasa kebudayaan yang mencerminkan sebuah intelektualitas, baik di dalam sistem pendidikan ataupun di luar itu. Naskah-naskah berbahasa Romawi memberikan pengaruh yang besar pada kegiatan pengkajian naskah-naskah abad tersebut. Pengkajian naskah yang semula berpusat pada karya-karya penulis klasik, mulai bergeser pada kepentingan keagamaan yang diambil dari Vilgata, yaitu kitab Injil berbahasa Latin.
Perkembangan pernaskahan di Timur Tengah abad pertengahan dinilai sebagai karya-karya tinggi yang dihasilkan oleh bangsa Arab dan Perth, seperti Mu’aflaqat dan Qasidah. Salah satu karya yang terkenal dari Persi karya Umar Khayyam, berjudul Cerita Seribu Satu Malam (Alfu Lailah wa Lailah), yang banyak disalin ke dalam sastra Eropa dan Asia. Kajian pernaskahan di Eropa dilakukan di pusat kebudayaan timur yang menghasilkan teori-teori mengenai kebudayaan dan sastra dari Arab, Persi, Siria, Turki, dan kawasan lainnya.
Sumber : Suryani, Elis. 2012. Filologi. Bogor : Penerbit Ghalia Indonesi.
Foto : biblicalarchaeology.org

