Konten dari Pengguna

Kebaya Feminin, Bukti Kecantikan Perempuan Indonesia

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Inspirasi kebaya pernikahan. (Foto: Instagram @septriasaacha, @zivannaletisha, dan @karinasalim)
zoom-in-whitePerbesar
Inspirasi kebaya pernikahan. (Foto: Instagram @septriasaacha, @zivannaletisha, dan @karinasalim)

Mengenakan kebaya di keraton, seperti busana putri keraton dapat mencerminkan sikap keibuan, keanggunan, kelembutan, kesopanan.

Keanggunan tampilan kebaya sebagai busana Nasional Indonesia membuat eksistensi kebaya tetap bertahan hingga sekarang. Setiap perempuan yang mengenakan kebaya tradisional akan terlihat lebih feminin, mempesona, dan menambah kesempurnaan keindahan penampilannya.

Nilai tampilan kebaya yang feminin itu tercipta karena adanya kelengkapan padu padan kebaya tradisional yang terstruktur dengan makna yang mendalam dari kecantikan seorang perempuan. Kelengkapan berbusana merupakan ciri khusus bagi pemakainya yang meliputi fungsi dan peranya. Oleh karena itu, cara berpakaian biasanya sudah diatur secara adat tentang kapan kebaya dikenakan, dimana kebaya dikenakan, dan siapa yang mengenakanya kebaya.

Secara utuh visualisasi kebaya itu terbagi atas tiga bagian, yaitu bagian atas meliputi tutup kepala dan tata rias rambut, bagian tengah terdiri dari baju, serta bagian bawah berupa kain panjang dan alas kaki.

Kebaya sangat berkaitan dengan konsepsi nilai-nilai luhur yang selalu harus dijaga, seperti pemakaian kebaya di Keraton Solo yang terdiri dari atas ungkel atau sangul, kebaya, semekan, setagen, januran, dan sinjang. Semua elemen dalam kebaya di Keraton Solo tersebut harus selalu ada.

Khusus kebaya terdiri dari tiga jenis, yakni Pertama, Kebaya Putri Sabukwala cekak digunakan untuk putri raja pada upacara tetesan dan supitan. Para putri raja mengenakan busana ini dengan kebaya cekak gesper penuh hiasan, slepe, ukel welah sawalit, dilengkapi dengan kokar, cunduk jungkat, cunduk mentul dengan asesorisnya. Kedua, Kebaya Putri Cekak yakni dalam kesempatan mendampingi raja untuk menyambut tamu-tamu penting di Keraton. Kebaya ini digunakan oleh para putri raja yang masih lajang dengan padu padan berupa konde ukel ageng yang dihiasi dengan daun pandan, mengenakan pakian batik berpola parang, kalung, anting, cunduk jungkat, dan gelang. Ketiga adalah Putri Kebaya Panjang, merupakan kebaya yang digunakan pada kesempatan pisowanan besar, khusus digunakan bagi putri raja yang sudah menikah dengan ciri padu padan berupa konde berbentuk ukel ageng banguntulak, dihiasi bunga melati, borokan asesoris dan cunduk jungkat, setumpuk bros, kalung, anting, dan gelang.

Kalau kita cermati, kebaya memang memberikan sebuah nilai untuk menghasilkan sosok perempuan yang terlihat feminin. Hal ini dimungkinkan karena struktur elemen pembentuk visual kebaya menggunakan simbol-simbol dasar bentuk garis lengkung, dimana garis lengkung memiliki nilai simbol kefemininan. Hal ini memiliki korelasi positif dengan visual tatanan rambut yang digelung, bentuk siluet kebaya yang pas mengikuti keindahan lengkungan-lengkungan detail anatomi tubuh perempuan, ataupun visual dari motif kebaya yang berupa daun atau bunga yang menggunakan berbagai macam bentuk dasar garis lengkung.

Dengan demikian nilai-nilai kefemininan akan semakin lebih menonjol jika seseorang perempuan menggunakan kebaya tradisioanal. Jika konsepsi visaul kebaya itu diubah, misalnya dengan bentuk rambut yang ditata lurus tanpa sanggul, penggunakaan motif yang lebih tegas, dan siluet baju kotak model baju kurung yang keindahan liukan tubuhnya tidak tampak. Maka tidak akan nampak penggambaran sosok perempuan yang memancarkan keindahannya.

Sumber :

Puspitawati, Herien. 2013. Konsep, Teori, dan Analisis Gender. Bogor : IPB Press.

Riyanto, A dan Liunir Zulbahri. 2009. Modul Dasar Busana. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.

Triyanto dan Widyabakti Sabatari. 2007. Kebaya dalam Prespektif Gender dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta.

Foto : humasnatunakab.go.id

Kebaya Feminin, Bukti Kecantikan Perempuan Indonesia (1)
zoom-in-whitePerbesar