Konten dari Pengguna

Kebijakan Anti Barat Berujung Jeruji Besi Para Musisi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

The Beatles (Foto: The Beatles/instagram)
zoom-in-whitePerbesar
The Beatles (Foto: The Beatles/instagram)

Peraturan Manifesto Politik pada 17 Agustus 1959 oleh Soekarno melarang musik Barat masuk ke Indonesia.

Sejarah industri musik di Indonesia dimulai pada 1950-an. Lagu-lagu yang berasal dari Amerika Serikat begitu popular di kalangan anak-anak muda di Indonesia. Film-film dari luar negeri, siaran-siaran radio dari luar negeri, dan piringan hitam banyak menyajikan kebudayaan Barat yang berisi lagu-lagu rock and roll. Pertumbuhan band juga terus meningkat dengan adanya beberapa festival-festival band di beberapa kota di Indonesia.

Presiden Soekarno memandang, pertumbuhan band di kalangan pemuda adalah hal yang negatif. Pandangannya tersebut tidak main-main, Presiden Soekarno mengeluarkan Manifesto Politik pada 17 Agustus 1959 tentang kebudayaan nasional. Pemerintah Indonesia memutuskan untuk campur tangan dalam menentukan musik mana yang boleh masyarakatnya dengar dan musik mana yang tidak boleh masyarakat dengar.

Bagi Soekarno, hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan agar kebudayaan nasional terlindungi dari pengaruh asing. Sejak pertengahan bulan Oktober 1959, masyarakat Indonesia dibatasi untuk tidak mendengarkan lagu lagu-lagu yang berirama rock ‘n roll, cha cha cha dan mambo di seluruh RRI.

Sikap anti kebudayaan barat khususnya musik barat terpapar jelas melalui Manifesto Politik Soekarno 1959 beserta program RRI yang banyak memutarkan lagu-lagu Indonesia dan pelarangan pemutaran lagu-lagu barat. Tak hanya itu, kebijakan tersebut membuat beberapa grup band juga musisi Indonesia berganti nama misalnya El Dolores Combo menjadi Dasa Ria, Gerly Sitompul menjadi Mawar Sitompul.

Hukuman penjara dikenakan bagi penyanyi atau grup band yang bersikukuh memainkan lagu-lagu barat pada masa itu. Beberapa musisi yang sempat merasakan jeruji besi karena memainkan lagu-lagu barat yaitu:

Koes Bersaudara yang ditahan selama delapan bulan di penjara Glodok karena sering membawakan lagu-lagu The Everly Brothers, The Bee Gees, dan The Beatles. Bharata Band di Surabaya yang di penjara pada 1963 karena menyanyikan lagu The Beatles. Abdi Soesman ditahan di Komando Distrik Militer Malang, Jawa Timur, karena menyanyikan lagu-lagu The Beatles. Lim Cam Pay sering diinterogasi pihak kejaksaan di Jakarta karena sering membawakan lagu-lagu barat.

Tidak hanya jeruji besi, pencekalan oleh RRI pun sempat dirasakan musisi Koes Bersaudara karena tetap tampil di berbagai panggung pertunjukkan dengan gaya yang dituduh kebarat-baratan.

Kebijakan Anti Barat Berujung Jeruji Besi Para Musisi (1)
zoom-in-whitePerbesar

Sumber : Mulyadi, R.M. 2009. Industri Musik Indonesia: Suatu Sejarah. Bekasi: Koperasi Ilmu Pengetahuan. foto : wongpoeri.blogspot.co.id