Kebudayaan Kuno Masyarakat Lembah Sungai Nil

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Salah satu ciri kebudayaan tinggi pada sebuah peradaban adalah adanya penemuan huruf oleh masyarakat di wilayah tersebut, baik huruf yang diadaptasi dari bangsa lain ataupun huruf yang langsung dibuat oleh perdaban itu. Huruf dapat menjadi penentu kemajuan sebuah perdaban, seperti pada peradaban di kawasan lembah Sungai Nil yang mengenal huruf hieroglif. Ditinjau dari bentuknya, huruf hieroglif masuk dalam kategori huruf piktograf, yaitu huruf yang penulisannya diawali dengan bentuk gambar.
Temuan arkeologis mengenai keberadaan huruf hieroglif oleh para ahli menunjukkan bahwa masyarakat Mesir Kuno banyak yang menuangkan huruf-huruf hieroglif pada media kertas papirus, kayu, batu, dan logam.
Salah satu temuan besar mengenai keberadaan huruf hieroglif terdapat pada pahatan Batu Rosseta yang ditemukan di tepian sungai Rosseta. Selain itu juga huruf hieroglif banyak dijumpai pada dinding-dinding bangunan piramida dan tugu Obelisk.
Umumnya tulisan-tulisan yang ditemukan berisi gambaran kehidupan masyarakat Mesir. Tetapi khusus di dinding piramida, banyak tulisan yang menerangkan kehidupan raja ketika sedang berkuasa. Huruf hieroglif pertama kali berhasil dibaca oleh seorang akademisi berkebangsaan Perancis bernama Francois Champollion pada awal abad ke-19.
Kepercayaan masyarakat Lembah Sungai Nil bersifat politeisme, karena mempercayai banyak dewa dalam kehidupan agama mereka. Walaupun demikian, masyarakat Lembah Sungai Nil mempercayai adanya kedudukan dewa tertinggi yang membawahi dewa-dewa lainnya, yaitu Dewa Amon-Ra atau Dewa Matahari. Karena kedudukannya itulah, Dewa Ra menjadi dewa utama masyarakat Mesir Kuno. Masyarakat kemudian membuat sebuah tempat khusus Dewa Ra, berupa tiang batu yang menjulang tinggi, diberi nama Obelisk.
Dewa lainnya yang dianggap penting oleh masyarakat Mesir Kuno adalah Dewa Osiris, yang memegang kebijakan di alam baka. Masyarakat Lembah Sungai Nil sering menggambarkan dewa mereka dalam bentuk setengah manusia dan setenga hewan. Seperti penggambaran Dewa Anubis, yang merupakan dewa kematian, diperlihatkan seperti manusia berkepala anjing. Selain itu juga ada Dewa Ibis yang digambarkan seperti manusia berkepala burung.
Masyarakat Mesir Kuno percaya akan kehidupan setelah mati, sehingga mereka mengenal kebudayaan membuat mumi. Mereka berkeyakinan bahwa selama raga manusia masih utuh, maka manusia itu akan tetap hidup. Proses pembuatan mumi sangatlah sakral dan memerlukan biaya yang sangat besar. Oleh karenanya, hanya kalangan keluarga kerajaan saja yang dapat dimumikan. Mayat-mayat yang sudah dalam bentuk mumi tersebut kemudian disimpan di dalam bangunan Piramida untuk menjaga agak tetap aman dari perubahan lingkungan.
Sumber: Alvarendra, H. Kenzou. 2017. Buku Babon Sejarah Dunia. Yogyakarta: Brilliant Book.
