Kehebatan Pengetahuan Berlayar Masyarakat Indonesia di Masa Lalu

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Keadaan iklim dan geografi Indonesia memungkinkan para pelaut Indonesia untuk menemukan tempat-tempat yang ingin dituju dengan mudah. Seperti ketika malam, para pelaut akan memanfaatkan bintang-bintang di langit sebagai petunjuk arah mereka ketika sedang berada di tengah laut. Alat-alat yang biasa digunakan, seperti kompas dan peta, untuk melintasi samudera yang atau wilayah laut yang sering tertutup kabut, tidak diperlukan di perairan Indonesia.
Pengetahuan astronomi lebih dibutuhkan oleh para pelaut Indonesia. Menurut pengetahuan suku Biak, musim untuk pelayaran berada pada penggambaran bintang-bintang Sawakoi (Orion) dan Romangwandi (Rasi Scorpio). Gugusan bintang yang mendandakan angin buruk untuk berlayar dikenal dengan Romangwandi (naga). Ketika Romangwandi (naga) masih terlihar di Cakrawala, berarti musim angina barat yang menyebabkan ombak-ombak besar masih dapat mengganggu pelayaran.
Munculnya bintang-bintang Sawakoi menandakan musim buruk sudah berlalu. Dalam tafsiran masyarakat Suku Biak, munculnya Sawakoi bagaikan pemuda-pemuda (Pleiades dan Taurus) telah berhasil mengejar pemudi-pemudi masuk ke dasar laut dan menjadi tanda munculnya musim perjodohan.
Setiap daerah memiliki kebudayaannya yang berbeda-beda dalam melihat arah angin untuk pelayaran. Ada masyarakat yang hanya mengenal dua jenis angin, yaitu darat dan laut. Ada pula masyarakat yang membedakan angin sesuai penjuru mata angin. Seperti Suku Batak yang mengenal delapan arah angina dasar untuk kepentingan berlayar dan bertani. Masyarakat Sangir mengenal sepuluh mata angin, delapan arah mata angin dasar, dan dua arah tambahan yaitu amboha (antara barat daya dengan selatan), dan arak miang (arah utara yang condong ke barat).
Perbedaan pemahaman mengenai penentuan arah mata angin tersebut memperlihatkan taraf kemajuan dan perkembangan pengetahuan navigasi di setiap daerah di Indonesia berbeda. Masih banyak masyarakat yang berlayar secara tradisional dengan pengetahuan navigasi yang didapat secara turun temurun. Ada pula yang dapat menentukan arah dengan melihat bentuk awan, pantulan cahaya matahari, warna air laut, arah arus air, hingga mereka yang mengandalkan penciuman mereka. Bahkan ada masyarakat yang menentukan arah dengan mengandalkan intuisi mereka saja.
Orang-orang Suku Bugis dan Makasar mempunyai banyak naskah dalam bahasa daerah mereka, dinamakan Kotika Tilik untuk menentukan kapal yang datang ke tempat mereka mempunyai maksud yang baik atau jahat, da nada Kotika Johoro untuk melihat tingkat keberhasilan serangan laut ketika mereka sedang berperang.
Hingga abad ke-20, sebenarnya para pelaut dari Indonesia sudah mengenal peta dan kompas. Akan tetapi banyak dari mereka yang memilih untuk tidak menggunakannya. Peta hanya mereka simpan di sebuah bambu, dan dikeluarkan ketika benar-benar dibutuhkan saja. Langit yang cerah, serta pulau-pulau sudah cukup menjadi petunjuk bagi para pelaut Indonesia menentukan arah.
Sumber : Poesponegoro, Marwati Djoened, dan Nugroho Notosusanto. 2010. Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta : Balai Pustaka.
