Kematian Jenderal Mallaby, Pemicu Pertempuran Surabaya 10 November 1945

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tentara sekutu yang tiba di Surabaya adalah pasukan Inggris dari Brigade Infantri India 49 Maratha yang dikomandoi oleh Brigjen Mallaby. Pasukan ini berisikan orang-orang India yang disebut Indian Army. Mereka tiba di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945.
Para pemuda Indonesia dibuat marah besar oleh mereka karena membebaskan para tahanan Belanda yang ditawan Jepang. Bahkan mereka juga melucuti senjata pemuda Indonesia.
Mallaby ketika mendarat di Indonesia berada dalam situasi yang sulit karena suasana permusuhan dengan rakyat Surabaya sudah mulai terlihat. Itu semua disebabkan karena Inggris memerintahkan orang-orang Indonesia agar menyerahkan senjata.
Surabaya pun akhirnya menjadi medan pertempuran. Pertempuran itu terjadi selama tiga hari antara Brigade 49 dengan pejuang republik dari berbagai elemen di Surabaya.
Mantan Letnan Kolonel A.J.F. Doulton mengagambarkan tiga hari itu sebagai neraka. Banyak pos militer Inggris yang hancur. Para pejuang Indonesia yang sudah semakin marah, terus menggempur pasukan Inggris hingga pasukan Inggris kewalahan dan hampir habis dalam pertempuran yang berlangsung pada 28-29 Oktober 1945 tersebut.
Kondisi kritis yang dialami Brigade 49 di Surabaya itu membuat pemimpin militer Inggris di Jakarta, Mayor Jenderal Howthorn, mengajak pimpinan Indonesia di Jakarta untuk berdialog dan berunding. Mereka berencana membawa Presiden Sukarno ke Surabaya dengan keyakinan bahwa wibawa Presiden Sukarno bisa membuat amarah rakyat Surabaya mereda.
Kedatangan Presiden Sukarno dan pejabat lain di Surabaya, ditandai dengan terbentuknya biro khusus yang dimaksud bisa penengan antara militer Inggris dan pemuda Surabaya. Biro khusus tersebut terdiri dari:
Dari pihak Indonesia: Gubernur Soerjo, Ruslan Abdul Gani, Doel Arnowo, Residen Soedirman, Mohammad Mangundiprojo, Armadji, Soejono, Kusnandar dan Soengkono.
Dari pihak Ingris: Brigadir Mallaby, Kolonel L.H.O. Pugh, Mayor M. Hobson, Kapten Shaw dan Wing Commander Groom.
Di tengah kedua pihak itu ada T.D. Kundan.
Salah satu upaya untuk menciptakan perdamaian di Surabaya yang dilakukan oleh biro khusus ini adalah pawai bermobil di Surabaya. Pada tanggal 30 Oktober 1945, Doel Arnowo dan Mallaby sempat duduk di kap mesin sebuah mobil. Setelah melewati Gedung Lindeteves, lalu mengarah ke Jembatan Merah. Di sana mereka berhenti di Gedung Internatio yang menjadi tempat berkumpulnya prajurit Inggris berdarah India.
“Rakyat di depan Gedung Internatio yang awalnya tampak tenang, timbul amarahnya dengan beratus-ratus mengejar iring-iringan dan menutupi jalan hingga memaksa rombongan untuk berhenti persis di muka Jembatan Merah. Keadaan sangat gaduh,” tulis Mohammad Mangundiprojo dalam risalah yang dimuat dalam Seratus Hari Di Surabaya Yang Menggemparkan (1975).
“Mallaby sudah berada di luar mobil yang ia tumpangi, pistolnya sudah direbut oleh rakyat yang mengerumuninya,” ujar Mangundiprojo. Mangundiprojo menilai jika rakyat yang sudah terlanjur panas tidak percaya kepada biro yang dinilai bersikap terlalu lembut kepada pihak Inggris.
Sebetulnya, massa yang berkerumun itu tidak tahu siapa Mallaby. Ketika Mallaby hendak masuk ke dalam Gedung Internatio, ia dihadang oleh massa di luar gedung. “Jangan yang tua, yang muda saja,” kata salah massa. Akhirnya Mallaby memerintahkan Kapten Shaw untuk masuk ke dalam Gedung Internatio.
Menurut Mangundiprojo, sebenarnya Mallaby sudah setuju agar Gedung Internatio dikosongkan dari pasukan militer Inggris. Saat di dalam itulah Mangundiprojo yang juga menghadiri perundingan tersebut melihat sebuah mortir tengah disiapkan oleh pasukan militer Inggris.
Di dalam gedung, tokoh-tokoh Indonesia yang menjadi anggota biro menjadi sandera ketika terdengar suara tembakan. Tidak diketahui siapa yang memulai tembakan. Beberapa perwira Inggris yang ada di dalam Gedung Internatio begitu khawatir pada Mallaby yang berada di tengah kerumunan massa.
Para pasukan militer Inggris segera diberi perintah menembak dan melemparkan granat ke arah kerumunan massa agar Mallaby bisa membebaskan diri. Keputusan itu memang berhasil membubarkan massa yang mengerumuni mobil yang ditumpangi Mallaby. Namun Mallaby masih berada di dalam mobil tersebut.
David Wehl mengungkapkan, jika Mallaby bersama beberapa perwira Inggris lainnya sedang duduk di dalam mobil ketika terjadinya insiden baku tembak. Ketika tembakan mereda, Mallaby mengintip untuk memantau situasi. Beberapa pemuda tak dikenal kemudian mendekat.
Kapten R.C. Smith, seperti dikutip J.G.A. Parrot dalam Who Killed Brigadier Mallaby (1975), melihat ada pemuda menembak Mallaby dari jarak yang cukup dekat. Dan itulah akhir hayat Mallaby.
Pertempuran yang berlangsung selama berjam-jam tersebut baru berhenti hampir pukul 9 malam. Perselisihan mereda setelah ada pengumuman bahwa akan dilaksanakan pengosongan Gedung Internatio oleh tentara Inggris.
Pasukan Inggris akhirnya mengosongkan dari Gedung Internatio dan diangkut oleh truk-truk yang disediakan pihak Indonesia. Sebelum keluar dari gedung, pada malam pertempuran itu Smith sempat berbicara dengan perwira Inggris yang mengabarinya soal kematian Mallaby. “Kematian perwira tinggi Inggris nanti pasti akan dibalas tentara kerajaan Inggris dari darat, laut maupun udara.”
**
