Kembalinya Ilmu Pengetahuan Pada Abad Pertengahan

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar : Wikiedia Commons
Menjelang berakhirnya abad pertengahan, Eropa akhirnya mengalami beberapa kemajuan yang tampak dalam masyarakat yaitu berupa penemuan-penemuan, seperti pembaharuan penggunaan bajak untuk meminimalisir energi petani.
Kincir air mulai digunakan untuk menggiling jagung. Pada abad ke-13 terjadi pula kemajuan dan pembaharuan dalam bidang perkapalan dan navigasi pelayaran. Perlengkapan kapal memperoleh kemajuan sehingga kapal dapat digunakan lebih efektif. Kompas sudah mulai digunakan.
Bidang industri tekstil dan pengolahan kulit memperoleh kemajuan pula setelah orang mengenal alat pemintal kapas. Kemajuan lain yang penting pada masa akhir abad tengah adalah keterampilan dalam pembuatan kertas. Keterampilan ini berasal dari Cina dan dibawa oleh orang Islam ke Spanyol. Karena dominasi agama yang menggila pada abad pertengahan sehingga akal pada abad Pertengahan ini benar-benar terpinggirkan. Sadar dengan apa yang sedang terjadi mulailah muncul para filsuf-filsuf yang berpikir tentang akal dan rasionalitas.
Ciri khas filsafat Abad Pertengahan dapat dilihat pada rumusan yang terkenal yang dikemukakan oleh Saint Anselmus, yaitu credo ut intelligam. Rumusan itu berarti iman lebih dahulu, setelah itu mengerti. Imanlah lebih dahulu. Misalnya, bahwa dosa warisan itu ada, setelah itu susunlah argument untuk memahaminya, mungkin juga untuk meneguhkan keimanan itu. Sifat ini berlawanan dengan sifat filsafat rasional.
Dalam filsafat rasional, pengertian itulah yang didahulukan; setelah dimengerti, baru mungkin diterima dan kalau mau; diimani. Abad Pertengahan melahirkan juga filsuf yang terkemuka yaitu Thomas Aquinas. Dia adalah salah satu diantara orang-orang yang berusaha membuat filsafat Aristoteles sesuai dengan agama Kristen. Tekanan terhadap pemikiran rasional pada waktu ia hidup telah banyak berkurang. Oleh karena itu ia berhasil mengumumkan filsafar rasionalnya. Zaman ini ditandai dengan tampilnya pada teolog di lapangan ilmu pengetahuan. Para ilmuannya hampir semua adalah para teolog, sehingga aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitas keagamaan.
