Konten dari Pengguna

Kemerdekaan Warga Koloni Melalui Peristiwa Boston Tea Party

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Diberlakukannya pajak yang berat dan permaianan perdagangan di kawasan koloni di Amerika telah memunculkan ketidakpuasan di kalangan para warga koloni. Awalnya ketidakpuasan itu tidak diungkapkan secara langsung terhadap pemerintah Inggris, para warga mencoba untuk berdiam diri dengan keadaan yang mereka alami. Hingga akhirnya muncul seorang tokoh dari masyarakat koloni bernama Samuel Adams. Dengan lantang, Samuel Adams menyerukan ketidakpuasannya terhadap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah Inggris. Ia membuat sebuah tuntutan yang sangat terkenal, yaitu “No Taxation Without Representation”.

Melalui tuntutannya, Samuel Adams mengatakan jika pemerintah kerajaan Inggris masih tetap memberlakukan pajak yang tinggi kepada warga koloni, maka mereka pun wajib diikutkan dalam penyusunan kebijakan yang hendak diterapkan di wilayah koloni Amerika. Samuel Adams berharap dengan adanya perwakilan masyarakat koloni di pemerintahan dapat ikut memperjuangkan kepentingan masyarakat koloni di depan pemerintah Inggris yang selama ini dirasa terlalu semena-mena dalam membuat kebijakan. Tuntutan Samuel Adams itu tentu saja ditolak oleh pemerintah Inggris, yang merasa masyarakat biasa tidak perlu ikut campur dalam urusan politik pemerintahan.

Pada 1773 terjadi sebuah peristiwa yang memicu konflik besar antara pemerintah Inggri dengan warga koloni di Amerika. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan nama Boston Tea Party. Sebelum terjadinya peristiwa itu, Perusahan Hindia Timur milik Inggris, yang menguasai wilayah India dan sekitarnya, tengah mengalami kesulitan keuangan setelah berbagai konflik yang terjadi di sana. Perusahaan tersebut lantas meminta pemerintah Inggris untuk membantunya dengan memberikan hak keistimewaan monopoli perdagangan atas komiditi teh yang hendak mereka kirim ke wilayah koloni. Pemerintah Inggris pun menyutuji permintaan perusahaan tersebut.

Keputusan pemerintah Inggris itu menjadi puncak kekesalan warga koloni di Amerika. Hal itu terjadi karena sejak tahun 1770, hampir sebagian besar perdagangan teh yang berlaku di wilayah koloni Amerika didatangkan secara ilegal dari beberapa negara di luar kekuasaan Inggris. Dengan adanya pemberlakuan monopoli perdagangan itu, tentu akan mengancam keberadaan para pedagang teh yang selama ini telah beroprasi di wilayah koloni dengan cukup baik. Para saudagar teh yang dirugikan itu dapat berimbas pada ketidakstabilan ekonomi di wilayah koloni, karena selama ini para pedagang menjual teh dengan harga yang terjangkau.

Orang-orang yang tidak puas dengan kebijakan perdagangan teh itu kemudian memutuskan untuk bergabung dengan para pemberontak yang telah merencanakan pemberontakan kepada pemerintah Inggris demi meraih kemerdekaan bagi Amerika. Para pemberontak itu menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan aksinya. Hingga ahirnya kesempatan itu datang ketika tiga buah kapal Inggris dengan muatan penuh teh berlabuh di pelabuhan Boston. Berdasarkan peraturan pemerintah Inggris, pemerintah lokal koloni diwajibkan membayar sejumlah pajak untuk kedatangan teh tersebut. Tentu saja seluruh warga Boston menolak hal itu karena harga teh dari Hindia Timur dirasa terlalu mahal.

Malam hari setelah kedatangan kapal bermuatan teh milik perusahaan Inggris itu, para pemberontak Boston yang dipimpin oleh Samuel Adams, melakukan penyamaran dengan berpakaian layaknya suku Indian, lalu menyelinap masuk ke dalam kapal-kapal Inggris yang tengah bersandar di dekat pelabuhan Boston. Mereka kemudian melempar seluruh muatan teh yang ada di dalam kapal ke laut. Para pemberontak beranggapan jika teh-teh itu sampai mendarat di pelabuhan, maka pemetintah Inggris memiliki dasar yang kuat untuk menerapkan pajak mereka. Itulah mengapa peristiwa tersebut dikenal dengan nama Boston Tea Party.

Mendapati muatannya telah disabotase oleh para pemberontak, pemerintah Inggris menjadi sangat murka, dan berencana memberikan hukuman yang sangat berat kepada warga koloni Boston. Mengetahui hal itu, para warga koloni Amerika di wilayah lain segera memberikan dukungannya kepada warga Boston. Persatuan di antara warga koloni di seluruh wilayah Amerika pun akhirnya terbentuk untuk menghadapi pemerintah Inggris demi meraih kemerdekaan penuh bagi Amerika.

Sumber : Alvarendra, H. Kenzou. 2017. Buku Babon Sejarah Dunia. Yogyakarta : Brilliant Book

Foto : monipag.com