kumparan
23 Januari 2018 23:05

Kemunculan Wayang Wong di Priangan

Wayang Wong adalah sebuah drama berbahasa Jawa yang menceritakan kisah epos Mahabarata dan Ramayana.
ADVERTISEMENT
Keberadaan Wayang Wong di Priangan diprakarsai oleh Pangeran Suria Kusumah Adinata yang menjabat sebagai bupati Sumedang tahun 1836-1882. Bukti keberadaan wayang tersebut dapat dilihat di Museum of Natural History, Chicago, Amerika Serikat. Di museum tersebut akan dijumpai mahkota-mahkota Wayang Wong yang menjadi koleksi museum. Mahkota Wayang Wong tersebut identik dengan bentuk mahkota yang dipakai para bupati Sumedang. Bukti lainnya menyebutkan bahwa pada 1893, bupati Sumedang pernah mengadakan pameran kebudayaan ke Chicago dengan menampilkan kesenian daerah Priangan. Diperkirakan mahkota-mahkota Wayang Wong dijadikan sebagai cinderamata untuk acara tersebut.
Wayang Wong Cirebon, atau biasa disebut wayang topeng, berkembang di masyarakat Cirebon sekitar tahun 1914. Wayang Wong Cirebon melakukan pertunjukannya dengan cara berkeliling ke daerah-daerah di wilayah Priangan. Setiap melakukan pertunjukan, para pemain Wayang Wong tersebut akan mendirikan bangsal dari bambu sebagai tempat menonton pertunjukan mereka. Masyarakat yang ingin menonton pertunjukan tersebut akan dikenakan biaya masuk sebagai bayaran untuk para pemain Wayang Wong. Beberapa daerah, seperti Bandung, Sumedang, Garut, dan Tasikmalaya sering dikunjungi oleh kelompok-kelompok Wayang Wong dari Cirebon. Masyarakat sangat senang dengan pertunjukan wayang, bahkan sampai rela berdesak-desakan untuk dapat menonton pertunjukan Wayang Wong Cirebon.
ADVERTISEMENT
Selain di Cirebon, di Kabupaten Garut sekitar tahun 1920, terdapat kelompok Wayang Wong yang dinamakan Wayang Wong Priyayi. Kelompok wayang tersebut dibuat atas usulan dari pemerintah Hindia Belanda yang senang dengan pertunjukan drama lokal masyarakat. Pertunjukan biasanya dibawakan oleh para pejabat daerah di pendopo Kabupaten Garut ketika perayaan hari-hari penting. Akan tetapi kelompok Wayang Wong ini tidak bertahan lama, diperkirakan karena pertunjukannya tidak menampilkan adegan punakawan yang wataknya dapat menghibur para penonton. Para pemain yang berasal dari kaum menak enggan bermain konyol seperti watak punakawan.
Sumber : Nina Herlina Lubis, dkk. 2015. Sejarah Kebudayaan Sunda. Bandung : Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat.
Foto : satujam.com
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan