Konten dari Pengguna

Kepulauan Banda, Kepulauan Rahasia Penghasil Pala Terbaik di Dunia

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Kepulauan Banda. Dok: Flickr/@Collin Key
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Kepulauan Banda. Dok: Flickr/@Collin Key

Kira-kira 2.500 km sebelah timur Jakarta terletak Kepulauan Banda. Selama ribuan tahun, sepuluh pulau ini adalah satu-satunya sumber pala dan bunga pala di dunia, yang berasal dari cangkang pala.

Sebelum kedatangan para pendatang dari Eropa, Kepulauan ini diperintah oleh para bangsawan, yang berdagang dengan orang India dan Arab, yang kemudian mereka menjual rempah-rempah kepada orang Eropa dengan harga yang berlipat tinggi.

Pada masa itu, pala lebih berharga daripada emas, karena rempah-rempah ini diyakini sebagai obat untuk mengobati bermacam wabah menakutkan yang secara rutin memangkas populasi di seluruh Eropa. Para pedagang Arab merahasiakan lokasi rempah-rempah yang berharga ini, dengan begitu harga pala dapat dimonopoli oleh mereka.

Baru pada tahun 1511 ketika raja Portugal, Afonso de Albuquerque, menaklukkan Banda serta pulau-pulau lain di sekitarnya dan rahasia Pulau Banda yang telah dijaga ketat pun akhirnya terbongkar. Pulau-pulau tersebut segera menjadi pusat perdagangan rempah-rempah.

Namun, para pedagang Portugis gagal mendapatkan kepercayaan dari para penghuni Kepulauan Banda. Orang-orang Banda tidak mau menerima apapun kecuali perdagangan yang adil, dan selama sisa abad ke-16 yang bisa dilakukan oleh orang Portugis adalah mengunjungi pulau-pulau itu setiap beberapa tahun dan kembali dengan kapal-kapal yang penuh dengan pala, gada, dan cengkeh.

Dok: Wikimedia Commons

Suatu ketika seorang pedagang Portugis bernama Kapten Garcia Henriques mencoba membangun benteng di Banda Neira, tetapi penduduk pulau itu mengangkat senjata dan menyerang anak buah Garcia. Menyadari bahwa pertarungan itu mahal dan melelahkan, Portugis mulai menghindari Kepulauan Banda, lebih memilih untuk membeli pala dari pedagang di Malaka.

Lalu, Belanda mengikuti jejak Portugis ke Banda, namun, diketahui para pedagang Belanda kurang dalam hal mengakomodasi masyarakat Banda agar tercipta sistem jual-beli rempah-rempah yang adil. Mereka mencoba memaksakan monopoli perdagangan rempah-rempah, memerintahkan orang Banda untuk menjual hasil perkebunan mereka hanya kepada Belanda. Orang Banda menolak; mereka menginginkan perdagangan yang bebas sehingga mereka dapat mengadu harga dari berbagai para pedagang negara Eropa dan menjual produk mereka kepada penawar tertinggi.

Negosiasi sangat sulit, dan pada satu titik, orang Banda memancing seorang laksamana Belanda untuk menyergap dan membunuh 46 orang Belanda. Sebagai balasannya, tentara Belanda menjarah beberapa desa menghancurkan kapal mereka.

Insiden tersebut itu menguntungkan pihak Belanda. Dalam perjanjian damai berikutnya, orang-orang Banda mengakui otoritas dan monopoli Belanda atas rempah-rempah mereka. Pada tahun yang sama, Belanda mendirikan Benteng Nassau di Banda Neira untuk mengontrol perdagangan pala.

Meskipun seharusnya damai, orang Banda membenci Belanda dan dengan sengaja melanggar perjanjian dengan berdagang dengan Inggris, Melayu, dan Jawa. Permusuhan penduduk pulau memperburuk hubungan Belanda-Banda yang berpuncak pada pengambilalihan seluruh kepulauan Banda dengan kekerasan oleh Belanda. Belanda membantai para penduduk desa dan mengurangi habis populasi dari lima belas ribu menjadi hanya seribu orang yang tersisa. Dengan populasi yang turun drastis sehingga membuat Belanda harus membawa budak tambahan dari India dan Cina untuk bekerja di perkebunan pulau Banda.

Inggris dinilai terlalu ikut campur dan ingin mendapatkan bagian dari perdagangan yang menguntungkan ini. Sebelum Belanda memiliki kendali penuh atas kepulauan itu, Inggris memiliki dua pos perdagangan di pulau kecil Ai dan Run, sekitar 10 dan 20 kilometer dari pusat Kepulauan Banda.

Ilustrasi ketika Inggris menguasai Kepulauan Banda Dok: National Maritim Museum, Greenwich

Pada tahun 1615, Belanda berhasil mengusir Inggris dari Ai tetapi Inggris berhasil mempertahankan Run hingga 1667. Inggris. dengan rempah-rempah yang didapat memperdagangkan rempah-rempah tersebut kepada pulau New Amsterdam di pantai timur Amerika Utara. Itu bukan kesepakatan yang buruk. Dalam 350 tahun, New Amsterdam akan menjadi pusat perdagangan global, sebuah pulau yang sekarang kita kenal sebagai Manhattan.

Selama Perang Napoleon, ketika Belanda jatuh ke Prancis, Inggris mengambil kesempatan dan merebut Kepulauan Banda untuk sementara. Sebelum Belanda mendapatkan kembali kendali atas pulau-pulau tersebut, Inggris mencabut ratusan bibit pala yang berharga dan memindahkannya ke koloni mereka sendiri di Ceylon, Singapura dan India, sehingga mematahkan monopoli Belanda selamanya.

Foto: Sejumlah masyarakat dan hasil kebun mereka. pala. Circa 1899-1900. Dok: University of Amsterdam.

Kepulauan Banda sekarang dihargai karena lingkungan lautnya, termasuk terumbu karang yang tangguh dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Diyakini bahwa Laut Banda di sekitarnya berfungsi sebagai penyangga yang melindungi pulau-pulau dari suhu ekuator yang ekstrim dan efek perubahan iklim. Angin laut dan hujan yang asin juga mempengaruhi cita rasa dan kualitas pala yang diklaim masih terbaik di dunia.

**

Referensi:

  • https://www.amusingplanet.com/