Konten dari Pengguna

Kesultanan Pelalawan, Perjuangan Membangun Peradaban Islam di Riau

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kesultanan Pelalawan adalah salah satu kerajaan bercorak Islam di Indonesia, yang berpusat di wilayah Provinsi Riau. Kesultanan Pelalawan merupakan kelanjutan dari kerajaan-kerajaan pra-Islam sejak abad ke-14 Masehi yang berkembang di wilayah Sumatera.

Kerajaan pertama di wilayah Kesultanan Pelalawan adalah Kerajaan Pekantua. Kerajaan bercorak Hindu itu ditaklukan oleh Kesultanan Malaka pada abad ke-15, masa pemerintahan Sultan Mansyur Syah. Kerajaan Pekantua kemudian diislamkan dan berubah menjadi Kerajaan Pekantua Kampar. Raja pertama di kerajaan itu adalah Sultan Munawar Syah.

Setelah Kesultanan Malaka ditaklukan oleh Portugis pada 1511, Kerajaan Pekantua Kampar memisahkan diri dan mengganti namanya menjadi Kerajaan Tanjung Negeri. Perubahan nama itu dilakukan ketika pusat pemerintahan dipindahkan pada masa pemerintahan Maharaja Lela Utama (1675-1686). Kerajaan Tanjung Negeri kemudian berhasil ditaklukan oleh Kesultanan Johor.

Pusat pemerintahan Kerajaan Tanjung Negeri kembali dipindahkan ke tepian Sungai Rasau, salah satu anak Sungai Kampar di Riau yang bermuara di Selat Malaka. Sejak dipindahkan itu, nama kerajaan kembali diubah menjadi Kesultanan Pelalawan. Kesultanan Johor, yang menjadi induk dari Pelalawan, ketika itu mengalami permasalahan internal kerajaan. Hal itu lantas memberikan kesempatan bagi Kesultanan Pelalawan untuk memerdekakan diri.

Namun sebelum sempat melepaskan diri dari kekuasaan Kesultanan Johor, Kesultanan Pelalawan terlibat konflik dengan salah satu kerajaan di Riau, yakni Kesultanan Siak Sri Inderapura. Mereka mengklaim dirinya sebagai pewaris Kesultanan Johor, sehingga memerintahkan Kesultanan Pelalawan untuk tunduk pada kekuasaannya. Keinginan Kesultanan Siak itu ditolak oleh Sultan Pelalawan, Maharaja Lela II, sehingga menimbulkan perang di antara kedua kerajaan itu.

Setidaknya ada dua kali penyerangan yang dilakukan oleh Kesultanan Siak ke wilayah Kesultanan Pelalawan, yaitu pada 1797 dan 1810. Serangan pada 1797 dilakukan melalui Sungai Rasau dan Sungai Kampar. Pasukan Pelalawan berhasil memukul mundur armada perang Kesultanan Siak Sri Inderapura.

Serangan tahun 1810 dipimpin oleh Syarif Abdurrahman Fakhruddin. Penyerangan yang kedua ini dilakukan melalui dua arah, yakni jalur darat dari arah hulu Sungai Rasau, dan jalur dari muara Sungai Kampar.

Serangan kedua Kesultanan Siak Sri Inderapura ternyata mendapatkan dukungan pari pemerintah Belanda. Penyerangan kali ini pun berbuah kemenangan bagi Kesultanan Siak Sri Indrapura. Satu persatu pasukan Kesultanan Pelalawan menyerah, hingga akhirnya kerajaan berhasil ditaklukan.

Kesultanan Pelalawan kemudian berada di bawah kekuasaan Kesultanan Siak Sri Indrapura, dengan sultan barunya, yakni Sultan Syarif Abdurrahman Fakhruddin. Sultan terakhir Kesultanan Pelalawan adalah Syarif Harun, keturunana dari Syarif Abdurrahman.

Sumber: Gustama, Faisal Ardi. 2017. Buku Babon Kerajaan-Kerajaan di Nusantara. Yogyakarta : Brilliant Book

Foto: flickr.com