Konten dari Pengguna

Ketika Orang-orang Zaman Mesir Kuno Meninggal (Bagian I)

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak Zaman Kuno, Mesir sudah dikenal sebagai salah satu pusat peradaban dunia dengan kebudayaan yang amat tinggi. Mereka hidup dengan kepercayaan kuat tentang adanya hubungan antara manusia, dewa, dan orang-orang yang sudah meninggal (roh).

Kepercayaan alam akhirat yang kelak akan dijalani ketika sudah meninggal, mampu membawa sebuah kebudayaan baru sebagai bentuk atau cara mereka menghargai kematian. Dalam kepercayaan yang mereka anut setelah manusia mati akan menjelma menjadi penghuni kerjaan Osiris di dalam akhirat. Mereka beranggapan bahwa jika orang meninggal dunia maka, roh orang tersebut harus bersih dari dosa-dosa.

Untuk mengetahui apakah orang tersbut selama hidupnya bersih atau tidak dari dosa, orang meninggal tersebut akan ditimbang oleh Dewa Anubius, yaitu Dewa Maut dengan rupa orang berkepala anjing di dampingi oleh Dewa Thot, yang bertugas mencatat keputusan hasil timbangan mereka, Dewa Thot ini digambarkan sebagai Dewa dengan bentuk orang berkepala burung bangau. Keputusan ini dituliskkan dalam buku kematian yang ditempatkan bersama orang meninggal tersebut tepat di dalam kuburannya. Jika hasil timbangan roh mengatakan bahwa ro itu kotor, maka ia akan menjadi mangsa setan-setan yang ada diakhirat. Jika bersih dari dosa maka akan masuk kerjaan sorga.

Sumber : Arifin, Djauhar. 1985. Sejarah Seni Rupa. Bandung : CV Rosda RD Bandung.

Foto : ancientfacts.net