Khutulun, Putri Bangsa Mongol yang Perkasa

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Khutulun ialah seorang wanita bangsawan dari Mongolia yang hidup pada masa Kekaisaran Mongolia. Khutulun tercatat sebagai sosok pahlawan bangsa Mongol yang hebat dan terkenal karena kecakapannya dalam bergulat.
Khutulun mempunyai seorang ayah bernama Kaidu, cucu dari Ogedei Khan putra Gengis Khan dan sepupu dari Kublai Khan. Artinya Khutulun adalahnya cicit dari sosok pahlawan Mongol yang paling terkenal, Gengis Khan.
Tidak seperti Kublai Khan, yang mendirikan Dinasti Yuan dan mengadopsi gaya hidup orang-orang Cina, Kaidu lebih memilih untuk mempertahankan gaya hidup nomaden.
Kaidu membesarkan dan mendidik Khutulun dengan cara hidup nomaden, sama seperti 14 saudara lelakinya yang lain. Khutulun bersama para saudaranya diajarkan gulat, menunggang kuda, serta memanah.
Tulisan Marco Polo tentang Khutulun menjadi satu dari sedikit sumber yang menggambarkan sosok Khutulun. Marco Polo menulis bahwa Khutulun mempunyai perawakan yang tinggi dan kuat dan Marco Polo menyebutkan jika khutulun mempunyai keberanian dalam pertempuran yang tidak ada duanya.
Tantangan gulat Khutulun
Menurut Marco Polo, ketika Khutulun sudah beranjak dewasa, Kaidu ingin menikahi putri dari Kaidu tersebut. Khutulun tidak sepenuhnya menolak, hanya saja Khutulun menetapkan syarat bahwa dia hanya akan menikahi pria yang mampu mengalahkannya dalam gulat.
Tentu saja banyak pria pelamar yang menyambut antusias tantangan Khutulun, mengingat Khutulun merupakan puteri dari Kaidu, tokoh berpengaruh pada saat itu.
Ironisnya, dari sekian banyak pelamar yang mendatangi istana Kaidu, tidak ada satupun pria yang dapat mengalahkan Khutulun dalam gulat. Bahkan, Khutulun malah mendapat lebih dari 10.000 kuda dari mengalahkan para pelamarnya.
Namun, Khutulun menolak permintaan ayahnya tersebut dan ia pun mengalahkan sang pangeran. Marco Polo tidak menyebutkan nasib Khutulun lebih lanjut, meskipun sumber lain menyatakan jika Khutulun akhirnya menikah.
Ada pula beberapa sumber yang menyatakan jika Khutulun menikahi seorang tahanan perang, sementara sumber lain berspekuliasi jika Khutulun menikah dengan seorang prajurit dari pasukan ayahnya.
Khutulun menginspirasi dunia opera
Buku dongeng Asia karya François Pétis de la Croix pada tahun 1710 berisi cerita di mana Khutulun disebut Turandot, sebuah kata Persia yang berarti "Putri Asia Tengah", dan merupakan putri berusia sembilan belas tahun dari Altoun Khan, sang Kaisar Mongol dari Cina.
Dalam kisah Pétis de La Croix, bagaimanapun, dia tidak begitu saja menerima para pelamarnya, dan mereka tidak bertaruh dengan kuda; sebaliknya, Turandot meminta para pelamar menjawab tiga teka-teki, dan para pelamar akan dieksekusi jika mereka tidak dapat menyelesaikan teka-tekinya.
Versi paling terkenal dari Turandot adalah versi opera karya Giacomo Puccini, asal Italia, pada tahun 1924.
Ada banyak cerita dan novel tentang Khutulun yang ditulis oleh penulis asal Mongolia, seperti Khotolon yang ditulis oleh Purev Sanj, Putri Cantik Kaidu, Khutulun, yang ditulis oleh Ch.Janchivdorj, Khotol Tsagaan karya Oyungerel Tsedevdamba, dan The Story of Kaidu Khan oleh Batjargal Sanjaa dan lainnya.
Kaidu diketahui meninggal pada tahun 1301 dan beberapa sumber mengatakan jika Khutulun yang menggantikan peran Kaidu sebagai pemimpin saat itu. Naiknya Khutulun menjadi pemimpin ternyata tidak disenangi oleh para saudaranya dan Kaidu digantikan oleh salah satu putranya sebagai gantinya.
Khutulun diperkirakan meninggal sekitar tahun 1306, hanya beberapa tahun setelah ayahnya, Kaidu, meninggal.
**
Referensi:
https://www.scmp.com/
https://www.rejectedprincesses.com/
