Krisis Personel Militer Belanda

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Adanya perlawanan yang terus menerus dilakukan oleh orang-orang pribumi, nyatanya berhasil membuat pihak Belanda kelabakan juga.
Perang Jawa 1825-1830, yang dipimpin oleh Diponegoro, menyebabkan tentara Hindia-Belanda mengalami kekalahan besar, korban tewas dari pihak Belanda mencapai 8.000 korban jiwa. Dan hal ini membuat Belanda harus kembali menambah personilnya untuk meredamkan perlawanan. Pada 1827, Krops elite diturunkan sebanyak 3.000 orang berangkat dari Belanda menuju Jawa. Berperang selama dua tahun krops elite belanda hanya menyisakan pasukan kurang dari 1000 jiwa.
Pemerintah Kolonial Belanda dihadapi permasalahan jumlah tentara yang ada di daerah jajahanya. Mereka biasanya memakai tentara bayaran dari seluruh Eropa untuk ditempatkan di wilyah koloni. Ini sudah terjadi semenjak VOC, permasalahan jumlah tentara tersebut semakin pelik setelah Belanda memisahkan diri dari Belgia pada 1831, hal itu mengakibatkan penyusutan penduduk kerajaan Belanda dari enam juta menjadi dua setengah juta jiwa, sehingga persedian tenaga tentara pun semakin berkurang. Terlebih lagi adanya peraturan wajib militer yang diterapakan Napoleon, peranturan ini mengharuskan para pemuda harus ikut wajib militer, dan mereka dilarang untuk berpergian ke daerah lain. Hanya para relawan yang boleh dikerahkan untuk ketentaraan dari timur ke barat.
Menyikapi krisis personel yang tengah dialami oleh pasukan Belanda, menjadikan timbulnya saran dari swasta untuk merekrut orang Negro sebagai tentaara bayaran, karena mereka dianggap sebagai prajurit yang tahan banting dan tahan akan penyakit tropis.
Sumber : Van Kessel, Ineke. 2011. “Serdadu Afrika di Hindia Belanda 1831-1945”. Depok: Komunitas Bambu
Foto : disparbud.jabarprov
