Letusan Gunung Pelee dan Kegelapan Politik St.Pierre Tahun 1902

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sebuah bencana mengerikan terjadi di pulau Martinique, India Barat, pada 8 Mei 1902. Hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari tiga menit untuk gunung Pelee melenyapkan kota St.Pierre di pulau milik negara Prancis itu. Bencana gunung meletus ini mengakibatkan kerusakan yang sangat parah di beberapa wilayah sekitar India Barat.
Aktivitas gunung Pelee sebelum meletus sudah sangat tinggi. Terlihat dari banyaknya jumlah asap belerang yang keluar dari kawah gunung. Selama berminggu-minggu, kegiatan masyarakat kota St. Pierre terganggu oleh asap yang sangat tebal, hingga akhirnya gunung Pelee memuntahkan seluruh isinya pada pukul 7.49 waktu setempat.
Kemudian pada pukul 7.52, kota St. Pierre dan penghuninya, yang berjumlah lebih dari 28.000 orang menghilang tertimbun oleh seluruh material yang dikeluarkan gunung Pelee. Ajaibnya ada dua orang warga yang berhasil selamat dari letusan hebat itu.
Selama lima jam berikutnya setelah letusan itu terjadi, kebakaran hebat terjadi di seluruh wilayah. Terbakarnya seluruh bangunan yang ada di kota benar-benar melenyapkan keberadaan kota St. Pierre.
Tidak hanya bangunan yang ada di kota, kapal-kapal yang sedang melakukan aktivitas perdagangan di pelabuhan terperangkap oleh topan yang terbentuk akibat dari letusan itu dan akhirnya tersapu ombak besar.
Jumlah korban yang sangat banyak sangatlah mengherankan, mengingat tanda-tanda meletusnya gunung Pelee telah terlihat selama berminggu-minggu. Seharusnya masyarakat dapat menyelamatkan diri mereka keluar pulau, mencari tempat yang lebih aman.
Namun setelah ditelusuri ternyata ada dua sebab utama mengapa hal itu bisa terjadi. Pertama, adanya kepentingan politik yang sangat pelik yang terjadi di kota itu. Kedua, masyarakat menolak untuk mengungsi karena tidak ingin meninggalkan harta benda mereka.
Menurut beberapa sumber, pada 10 Mei 1902 di kota St. Pierre akan diadakan pemilihan umum. Pemerintah yang berkuasa ketika itu dicanangkan akan kembali terpilih, sehingga mereka khawatir jika masyarakat mengungsi dari wilayah itu, tidak akan ada pemilihan umum dan mereka akan gagal menduduki kursi pemerintahan kembali.
Oleh karenanya mereka melakukan sebuah tindakan nekat yang tidak manusiawi, yaitu dengan menutup seluruh jalan menuju ke luar kota agar tidak ada yang keluar dari St. Pierre.
Pada Senin 5 Mei 1902, tiga hari sebelum terjadinya bencana itu, gunung api itu sebenarnya telah menumpahkan aliran lumpur mendidih menuruni kawah menuju lereng gunung. Aliran lumpur ini telah menyebabkan hancurnya pabrik gula, dan menewaskan 100 orang pekerja di sana. Bencana pertama itu seharusnya cukup menjadi pengingat agar masyarakat mengungsi, namun kenyataannya mereka memilih untuk bertahan dan meyakinkan diri mereka bahwa bencana mengerikan itu tidak akan terjadi.
Sumber : Spignesi, Stephen J. 2008. 100 Bencana Terbesar Sepanjang Masa. Tanggerang : Karisma
Foto : canalblog.com
