Konten dari Pengguna

Louis Daguerre dan Metode Praktis Fotografi

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Louis Jacques Mande Daguerre dilahirkan di Kota Cormeilles, sebelah utara Prancis, pada 1787. Ketika muda, Louis Daguerre merupakan seorang seniman yang cukup terkenal di kotanya. Memasuki usia 30-an, ia mendapatkan sebuah proyek untuk membuat diorama pemandangan yang dirangkai dengan efek pencahayaan khusus. Ketika terlibat dengan proyek ini, Louis Daguerre tertarik untuk mengembangkan sebuah mekanisme yang secara otomatis dapat mengabadikan pemandangan alam tanpa memerlukan kuas dan cat, dengan kata lain membuat sebuah kamera.

Percobaan demi percobaan dilakukan oleh Louis Daguerre untuk membuat kamera yang dapat bekerja dengan baik. Namun segala upayanya tersebut selalu berakhir dengan kegagalan. Pada 1827, ia bertemu dengan Joseph Nicephore Niepce, yang juga sedang berupaya merancang sebuah kamera. Setelah berdiskusi cukup panjang, akhirnya mereka memilih untuk rekanan dalam penelitian membuat kamera tersebut. Namun pada 1833, Niepce wafat sebelum berhasil menyelesaikan rancangan mereka berdua. Tetap Louis Daguerre bertekad untuk menyelesaikan penelitiannya walau hanya seorang diri. Pada 1837, Louis Daguerre sukses mengembangkan sebuah sistem praktis untuk fotografi yang diberinama daguerretype.

Dalam metode yang dipakai oleh Louis Daguerre, gambar direkam pada sebuah plat yang dilapisi perak iodide. Waktu yang dibutuhkan untuk masa pencahayaan hanya selama 15-20 menit. Hal itu lah yang membuat metode daguerretype bisa digunakan secara praktis, walau masih ada beberapa bagian yang merepotkan. Pada 1839, Louis Daguerre mempublikasikan hasil temuannya tanpa meminta paten kepada pemerintah. Namun sebagai gantinya, ia meminta kepada pemerintah Prancis untuk memberinya tunjangan pensiun seumur hidup, baik bagi dirinya maupun putra Niepce. Dengan cepat penemuan Louis Daguerre membuat kegemparan besar di tengah masyarakat. Ia mendapat banyak penghargaan dari hasil karyanya tersebut. Penggunaan metode daguerrotype pun meluas dengan cepat ke berbagai negara.

Dalam 2 tahun setelah Louis Daguerre mempublikasikan hasil temuannya, sudah ada orang yang melakukan perbaikan, seperti penambahan perak bromide pada perak iodide sebagai bahan peka cahaya. Perubahan tersebut memiliki efek penting pada masa pencahayaan yang dibutuhkan, sehingga hanya memerlukan waktu yang singkat untuk membuat gambar.

Penemuan yang dilakukan oleh Louis Daguerre merupakan pengembangan dari karya-karya pendahulunya. Ia melihat sebuah alat bernama Camera obscura yang telah ditemukan kurang lebih delapan abad sebelum penemuan Louis Daguerre. Camera obscura mirip dengan kamera lubang jarum, tetapi dioperasikan tanpa menggunakan film. Penemuan lainnya dibuat pada 1727 oleh Johann Schulze, yang menemukan bahwa garam perak bersifat peka cahaya, sehingga baik untuk pengambilan gambar. Namun sayangnya, Schulze tidak mengembangkan penemuannya ini, walaupun sudah berhasil membuat beberapa gambar temporer.

Penemuan yang dilakukan oleh Niepce lah yang paling mendekati rancangan dari Louis Daguerre, hal itulah yang membuat ia memilih Niepce sebagai rekan penelitiannya. Pada 1820, Niepce berhasil menemukan bitumen Judea, sejenis aspal, bersifat peka cahaya. Dengan menggabungkan zat peka cahaya tersebut dengan camera obscura, pada 1826 Niepce berhasil membuat foto pertama di dunia. Untuk alasan itulah, beberapa ahli merasa bahwa Niepce lah yang seharusnya diberi penghargaan sebagai penemu fotografi. Namun, metode fotografi Niepce sangat tidak praktis karena membutuhkan masa pencahayaan selama delapan jam, dan hasilnya pun masih terlihat buram.

Sumber : Hart, Michael H. 2016. 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia. Jakarta : Change.

Foto : profilbos.com