Makanan dalam Konsep Kebudayaan Suku Sasak

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suku sasak adalah suku yang mendiami Pulau Lombok. Sebagian besar suku sasak adalah beragama Islam, dan sebagian kecil masih menganut Islam Watu Telu. Pada awal abad ke-17, Kerajaan Karangasem dari Bali berhasil menanamkan pengaruhnya di wilayah barat Pulau Lombok. Kemudian pada 1750 seluruh wilayah Pulau Lombok berhasil dikuasai kerajaan Hindu dari Bali. Dengan dikuasainya Lombok oleh Bali, maka orang-orang Bali berdatangan ke Lombok sekaligus membawa serta kebudayaan mereka termasuk dalam kebudayaan makan.
Dalam pandangan masyarakat Suku Sasak, makan diartikan sebagai kegiatan mengkonsumsi makanan pokok yang berupa nasi. Suku Sasak akan mengatakan dirinya sudah makan apabila ia sudah memakan nasi dengan lauk pauknya dan apabila ia hanya memakan ketupat, soto, jagung, ubi, dan makanan lainnya maka Suku Sasak menyatakan bahwa dirinya belum makan. Hal ini adalah tradisi dan konsep makan Suku Sasak yang berbeda dengan konsep suku lainya.
Makanan Suku Sasak berbeda-beda tergantung dari daerah tempat tinggalnya. Masyarakat Sasak yang tinggal di daerah pegunungan dan pesisir pantai biasanya makan dalam porsi yang lebih banyak. Secara umum makanan Suku Sasak terdiri dari nasi, ikan, sayur dan biasanya porsi nasi lebih banyak dari lauk pauknya.
Menurut orang Sasak, makanan adalah segala sesuatu yang dapat dimakan yang dapat mengenyangkan dan menyenangkan hati. Dilihat dari pengertian itu, makanan orang Sasak dibedakan menjadi makanan sehari-hari atau makanan pokok, makanan upacara, makanan panganan
Sebagai masyarakat yang mayoritas beragama Islam maka Suku Sasak tidak mengkonsumsi makanan-makanan yang diharamkan seperti babi, darah, bangkai, kecuali bangkai ikan dan belalang. Begitupun makanan yang dianggap hidup di dua alam seperti katak.
Masih juga terdapat pantangan terhadap suatu makanan pada masyarakat Suku Sasak dengan alasan kesehatan. Misalnya seorang ibu hamil tidak boleh makan nenas, durian karena panas dan berdampak pada bayi yang dikandungnya. Kemudian orang yang mengalami patah tulang tidak boleh makan daun paku karena bisa membuat ngilu.
Suku Sasak sangat menghargai makanan, karena mereka beranggapan bahwa makanan yang membuat mereka tumbuh. Makanan akan menjadi darah dan daging mereka sehingga mereka akan sangat berhati-hati dalam mencari dan memperlakukan makanan.
Anak-anak biasanya diberi makan di di dapur dengan duduk bersila. Nasi dan lauk pauknya ditaruh dipiring sebelumnya. Mereka makan dengan saling berhadap-hadapan atau juga duduk melingkar mengelilingi makanan sedangkan ibu mereka duduk untuk melayani apabila makanan di mangkok anak-anak sudah mulai berkurang..
Seorang laki-laki Sasak yang dewasa bila makan selalu menghadapi nasinya dengan duduk bersila. Kecuali apabila di tempat darurat seperti di sawah yang becek mereka biasanya makan sambil jongkok. Bila menyendok nasi menggunakan tangan kanan yang sebelumnya telah dicuci terlebih dahulu. Menurut adat menyendok nasi dengan tangan kiri itu tabu karena tangan kiri sering dipergunakan untuk memegang yang kotor terutama untuk bersuci setelah buang air.
Acara selamatan antara lain upacara kehamilan atau bisok tian (cuci perut) pada 7 bulanan, ngurisan (akikah), sunatan, perkawinan, kematian 1hari, 3 hari (nelung), 7 hari (mituk), 9 hari (nyangang), 40 hari, 100 hari, tahunan (haul), maulid Nabi Muhammad SAW, Idul Fitri, Idul Adha dan lebaran topat.
Pada setiap upacara-upacara tersebut tidak terlepas dari makanan sebagai pelengkap atau bahkan sebagai bagian utama dari makanan tersebut. Variasinya mulai dari yang paling sederhana yaitu berupa nasi dan telur saja sampai dengan variasi lengkap sangat tergantung dari kemampuan ekonomi dan status sosial budaya masyarakat yang menyelenggarakan upacara tersebut.
Sumber : Soekanto, Soerjono. 1991. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Universitas Indoensia Press. Inventarisasi Perlindungan Karya Budaya Kuliner BPNB Bali, NTB, NTT Tahun 2014 Foto : dutawisata.co.id
