Konten dari Pengguna

Mani dan Penyebaran Agama Manichaeisme

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Manichaeism. (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Manichaeism. (Foto: Wikimedia Commons)

Mani, yang oleh pengikutnya dianggap sebagai nabi, merupakan pendiri agama Manichaeisme yang berkembang pada abad ke-3 masehi. Saat ini Manichaeisme memang sudah punah, namun pada masa kejayaannya, pengikut dari agama ini sangatlah banyak tersebar di seluruh dunia.

Manichaeisme sendiri lahir di Timur Tengah kemudian menyebar ke Barat hingga samudera Atlantis, dan ke timur hingga samudera Pasifik. Agama ini bertahan dalam periode yang cukup panjang, yakni lebih dari seribu tahun.

Lahir di Mesopotamia, yang saat itu menjadi bagian dari Imperium Persia di bawah dinasti Arsacid, pada 216 masehi. Ia merupakan keturunan dari penguasa di wilayah Persia. Dibesarkan dalam sekte kecil yang sangat dipengaruhi oleh doktrin Kristen, di saat mayoritas bangsa Persia menganut paham Zoroaster.

Diketahui bahwa Mani memperoleh wahyu ketika berusia 12 tahun, dan mulai mendakwahkan agamanya ketika berusia 44 tahun. Penyebaran agama Manichaeisme di tempat kelahirannya tidak terlalu berhasil, sehingga Mani memutuskan untuk pergi ke barat daya India. Di sana ia sukses mempengaruhi penguasa lokal untuk masuk dalam agama Manichaeisme tersebut.

Pada 242 M, ia kembali ke Persia dan mulai mendapatkan perhatian dari raja Shapur I berkat aktivitas keagamannya. Walau raja Shapur tidak masuk agama Mani, tetapi ia mengizinkan Mani untuk menyebarkan agamanya di seluruh Imperium Persia.

Selama 30 tahun, masa pemerintahan Shapur I dan Hormizd I, Mani berdakwah tanpa gangguan dan mendapatkan banyak pengikut. Pada masa ini pun Mani berhasil mengirimkan misi keagamannya ke beberapa wilayah di luar Persia.

Tapi kesuksesan yang didapat oleh agama Mani mengundang kecemburuan para pendeta Zoroaster sebagai agama resmi di Persia. Pada 276, setelah raja Bahram I naik tahta, Mani ditangkap dan dipenjara. Setelah melalui penyiksaan yang berat selama 26 hari oleh pemerintahan baru Persia, Mani pun tewas.

Agama yang diciptakan oleh Mani itu merupakan gabungan dari agama-agama yang sudah ada sebelumnya. Mani mengakui Zoroaster, Buddha, dan Yesus, sebagai Nabi yang benar, tetapi ia mengaku mendapatkan wahyu yang lebih lengkap dari ketiganya. Walau ada elemen Buddha dan Kristen dalam ajaran agamanya, doktrin yang paling kuat diambil dari dualisme Zoroaster.

Mani mengajarkan bahwa dunia tidak dikuasai oleh sebuah kekuatan tunggal, melainkan oleh dua kekuatan yang saling bertempur. Mani percaya bahwa prinsip buruk diibaratkan sebagai kegelapan dan materi, sedangkan prinsip baik diibaratkan sebagai cahaya dan ruh.

Dalam Manichaeisme kekuatan baik dan buruk memiliki kekuatan yang seimbang. Penganut Manichaeisme percaya bahwa melakukan hubungan intim, bahkan untuk tujuan keberlangsungan keturunan, harus dihindari. Selain itu ada pula larangan untuk memakan daging dan meminum anggur.

Segala aturan yang dibuat dalam ajaran Manichaeisme terbagi menjadi dua bagianm, yaitu bagi penganut yang disebut “Yang Terpilih”, dan penganut yang disebuta “Yang Mendengarkan”. Keduanya dibedakan dari cara mereka menanggapi peraturan yang dibuat dalam agama Manichaeisme. Tidak semua pengikut Mani disebut sebagai “Yang Terpilih”, karena aturan yang dijalankannya sangatlah ketat.

Sebaliknya, para pengikut “Yang Mendengarkan”, tidak terlalu menjalankan aturan dengan ketat, seperti mereka boleh menikah, memakan daging, dan meminum anggur. Namun mereka yang masuk dalam golongan “Yang Mendengarkan” harus mendukung mereka “Yang Terpilih”.

Hal lain yang membedakan antara kedua golongan itu adalah mereka “Yang Terpilih” akan langsung pergi ke surga setelah mati, sedangkan mereka “Yang Mendengarkan” akan melalui jalan yang panjang untuk masuk ke surga.

Selama hidupnya, Mani menulis beberapa buku dalam bahasa Persia, dan bahasa Syriac (bahasa Semit yang dekat dengan bahasa Aramaik), yang nantinya menjadi pedoman bagi agama Manichaeisme. Sejak awal pendiriannya, agama Manichaeisme sangat giat menarik penganut baru sebagai bagian membentuk kekuatan agamanya.

Walaupun Mani telah wafat, agamanya terus berkembang di seluruh dunia. Di wilayah Barat, puncak kejayaan agama Manichaeisme terjadi pada abad ke-4 M. Tetapi agama ini mulai dibasmi sekitar abad ke-7, setelah agama Kristen menjadi agama resmi Imperium Romawi.

Manichaeisme masih kuat di wilayah Mesopotamia dan Iran, sehingga dapat menyebarkan pengaruhnya ke wilayah Asia Tengah, Turki, dan bagian barat China. Pada akhir abad ke-8, agama Manichaeisme menjadi agama resmi bangsa Uighur, sebuah bangsa yang memegang kekuasaan di wilayah barat China dan Mongolia.

Namun sejak perkembangan agama Islam yang sangat pesat pada abad ke-7, Manichaeisme mulai mengalami kemunduran. Kahlifah Abbasiyah di Baghdad secara tegas membasmi kaum Manichaeisme di wilayah kekuasaannya, termasuk di Mesopotamia dan Iran. Selama abad ke-9 M, kekuasaan agam Manichaeisme mengalami kemunduran di wilayah Asia Tengah. Invasi bangsa Mongol pada abad ke-13 telah benar-benar menghancurkan agama itu.

Sumber : Hart, Michael H. 2014. 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia. Jakarta : Noura