Mary Cassatt, Seniman Wanita Terbesar Abad ke-19

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: crystalbridges.org
Mary Cassatt disebut sebagai satu-satunya seniman wanita dari kelompok aliran impresionis yang berjasa menegaskan seni modern. Oleh para seniman dunia, Mary Cassatt dianggap sebagai seniman wanita terbesar pada abad ke-19. Beberapa orang bahkan menyebut dirinya seniman Amerika terpenting di dalam generasinya.
Mary Cassatt lahir pada 1845 di Pittsburgh, dari pasangan Robert Simpson Cassatt, dan Katherine Cassatt. Ketertarikannya terhadap seni lukis muncul ketika ia berusia 7 tahun.
Saat itu Mary Cassatt mendampingi keluarganya melakukan perjalanan ke Eropa selama 4 tahun. Ia menetap cukup lama di Prancis dan Jerman, yang diketahui sebagai pusat seni Eropa abad ke-19.
Di sana, Mary Cassatt menyaksikan banyak karya besar dari seniman Eropa, dan sangat tertarik dengan kebudayaan Prancis. Mary Cassatt kemudian bertekad untuk kembali ke Eropa guna belajar melukis bersama seniman besar di sana.
Pada 1861, Mary Cassatt mendaftarkan diri di Akademi Seni Pennsylvania. Sebuah tindakan yang cukup berani dari seorang wanita kala itu, di mana sebagian besar profesi seniman ditekuni oleh kaum pria.
Keputusan Mary Cassatt itu sempat ditentang oleh keluarganya, terutama ayahnya yang menilai hidup anaknya tidak akan berkembang. Namun, akhirnya keluarganya mendukung Mary Cassatt untuk pindah ke Paris guna memulai belajar seni lukis pada 1866.
Keluarga Mary Cassatt mendesak dirinya kembali ke Amerika selama masa pertempuran Prancis-Prusia. Pada 1872, Mary Cassatt pergi ke Italia, dan mendapatkan pengaruh yang cukup besar dari seniman abad ke-16, Correggio.
Ia pun sempat mengunjungi Spanyol, Belgia, dan Belanda, untuk mempelajari teknik melukis dari Diego Valasquez, Peter Paul Rubens, dan Frans Hals. Menjelang tahun 1873, Mary Cassatt mulai mengadakan pameran dan menjual karyanya di galeri Paris.
Ia mulai berhenti mengadakan pameran di galeri setelah para kritikus memaksanya melukis menggunakan warna-warna terang demi menyesuaikan dengan gaya konvensional masa itu. Mary Cassatt pun tidak mendapat dukungan untuk gaya seni melukis yang ia pelopori.
Pada 1877, seorang pelukis dan pematung, Edgar Degas, mengunjungi studio milik Mary Cassatt untuk mengundangnya mengadakan pameran bersama para penganut aliran independen, atau para kritikus sering menyebutnya aliran Impresionis.
Mary Cassatt, Edgar Degas, dan beberapa pelukis Impresionis lainnya mulai memperkenalkan kembali karya penegasan yang sudah muncul sejak masa Renaisans. Para penganut Impresionis berusaha menciptakan kembali kesan seorang seniman terhadap suatu peristiwa, serta mencoba menggali efek cahaya terhadap sebuah objek.

Selama masa akhir abad ke-19, Mary Cassatt mulai melukis dengan menggunakan tema-tema keluarga, seperti ibu dan anak-anak. Mary Cassatt dapat menyampaikan pesannya dengan baik melalui karya-karyanya tersebut.
Ia melukis dengan melihat gaya natural pada objek lukisannya, sehingga bagi sebagian orang kejujuran dan rasa simpatinya sangat tersampaikan. Selama tahun 1890-an, karya Mary Cassatt mulai memperlihatkan pengaruh dari Pasca-Impresionisme dan seni Jepang.
Mary Cassatt sering mengadakan pameran tunggal di Paris yang sangat sukses. Namun, kurangnya penghormatan pada hasil karyanya di Amerika sangat mengganggunya. Secara umum, masyarakat Amerika masih kurang memperhatikan karya-karya seni, terutama seni lukis.
Mary Cassatt sangat menyayangkan hal itu, mengingat masyarakat Eropa sangat menghargai karya seni. Ia pun selalu memberikan saran kepada teman-temannya di Amerika untuk memperjuangkan seni lukis, menghargai karya-karya seniman di sana, dan membeli hasil karyanya.
Di kemudian hari karya-karya seni itu menjadi benda yang sangat berharga di museum-museum Amerika. Pada 1904, Mary Cassatt membuat lukisan Legium Kehormatan Prancis. Kebesaran karyanya dan perjuangannya akhirnya mendapat pengakuan di Amerika Serikat ketika Mary Cassatt mendapat penghargaan dari Akademi Pennsylvania dan Institut Chicago, namun seluruhnya ia tolak.
Sumber: Felder, Deborah G. 2007. 100 Wanita Paling Berpengaruh Sepanjang Masa. Tanggerang: Karisma
