Membaca Sejarah 'Nyai' dan 'Gundik' pada Masa Kolonial

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bahwa ia dijual dari tangan ke tangan
Hingga dijauhi oleh semua orang, Ia pun meninggal di dalam kota
Anak kampung berambut pirang....
Sebutan ‘Nyai’ utamanya dalam masyarakat Sunda, Bali, dan Jawa digunakan untuk memanggil ‘perempuan (muda), atau adik perempuan’, dan juga dipakai sebagai istilah panggilan, bahkan hingga saat ini pun panggilan tersebut masih digunakan.
Akan tetapi, ada yang membuat hati terenyuh ketika berbicara 'Nyai' pada masa Kolonial.

Kata 'Nyai' adalah sebutan bagi seorang perempuan pengatur rumah tangga serta juga milik dari seorang pria Eropa. Selain mengatur rumah tangga, 'Nyai' juga memenuhi kebutuhan seks laki-laki Eropa dan menjadi ibu dari hasil hubungan tersebut.
'Nyai' sama halnya dengan sebutan pergundikan.
Kalau diartikan, pergundikan atau gundik adalah istri orang terhormat yang tidak resmi, perempuan peliharaan, atau selir. Karena banyaknya gundik yang berasal dari Bali, maka istilah 'Nyai' berkembang menjadi sebutan bagi gundik-gundik laki-laki Eropa.
Pergundikan di Hindia-Belanda di kalangan laki-laki Eropa banya berbagai macam istilah sebutan selain 'Nyai', yaitu moentji (mulut kecil), meubel (perabot), inventarisstuk (barang inventaris), boek (buku), woondenboek (kamus), mina, sarina sebutan di Tangsi KNIL, Deli Kartina di perkebunan Deli.
Pada masa pemerintahan Hindia-Belanda pergundikan masih kerap terjadi di kalangan laki-laki Eropa. Terlepas dari itu, pergundikan menjadi suatu budaya yang diwarisi sejak masa kekuasaan VOC Hingga berlanjut ke masa Hindia-Belanda.
Saat datang ke Hindia-Belanda para laki-laki Eropa tersebut merasa perlu untuk mengambil gundik. Gundik dipandang mendatangkan sisi keuntungan sendiri di samping menjadi istri simpanan yang tidak sah, salah satunya sebagai guru bagi laki-laki Eropa untuk mengajari kebudayaan nusantara khususnya kebudayaan Jawa
Meski begitu, kehidupan seorang 'Nyai' tetaplah memilukan, karena pergundikan merupakan perbuatan yang tidak bermoral, melanggar dasar-dasar agama, sehingga seorang 'Nyai' sering dikucilkan dan dianggap rendah oleh pribumi.
Belum lagi kalau para 'Nyai' itu ditinggalkan oleh orang-orang Kolonial yang kembali ke negaranya.
