Konten dari Pengguna

Ondel-ondel: Boneka Perantara Roh Nenek Moyang

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Meski Betawi di masa sekarang sudah dipenuhi oleh berbagai etnis yang hidup dan menetap dengan latarbelakang suku serta ras berbeda, nyatanya masih ada budaya orang-orang Betawi asli yang hidup dan terus dihidupkan hingga saat ini.

Teater Betawi tradisional merupakan salah satu budaya yang berlandaskan kehidupan agraris dan bersifat magis-religius. Teater Betawi merupakan pertunjukkan yang membawakan lakon atau cerita dan terbagi menjadi menjadi empat jenis; teater tutur, teater tanpa tutur, wayang, dan teater peran. Teater tanpa tutur yaitu jenis teater yang dimainkan tanpa berbicara, jadi hanya sebatas memperagakan gerak tubuh dengan diiringi musik dan lagu. Di Betawi teater tanpa tutur ada dua, yaitu Ondel-ondel dan gemblokkan. Ondel-ondel, merupakan suatu wadah yang dijadikan personifikasi leluhur nenek moyang. Dengan demikian dapat dianggap sebagai pembawa lakon atau cerita, walaupun hanya sebagai alat peraga yang tidak berbicara atau bertutur (Jakob Sumardjo, 1992, hal: 76).

Pada era 40-an Ondel-ondel digunakan sebagai leluhur atau nenek moyang yang senantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa. Besarnya kepercayaan masyarakat zaman dulu terhadap nenek moyang akhirnya menjadikan Ondel-ondel sebagai media perantara untuk para roh-roh nenek moyang. Hal ini dapat dilihat dari bentuk dan ukuran boneka Ondel-ondel pada yang memperlihatkan bentuk wajah boneka Ondel-ondel yang memiliki mimik wajah seram dan bercaling serta berambut gondrong dan berantakan dengan ukuran boneka yang lebih besar dari ukuran boneka Ondel-ondel sekarang.

Sumber foto : orbitdigital.net