Konten dari Pengguna

Orang-orang Mardijker di Batavia

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Potret mardijkers (Foto: boombastis.com)
zoom-in-whitePerbesar
Potret mardijkers (Foto: boombastis.com)

Pada masa kolonial, ada satu kelompok unik yang namanya ikut hilang ketika VOC runtuh, mereka adalah orang-orang Mardijker atau disebut juga sebagai “Orang Portugis hitam”.

Kelompok ini pertama kali ada di Batavia pada awal abad ke-17, mereka berasal dari wilayah-wilayah Portugis yang ditaklukan oleh VOC di Malaka dan India. Sebagian besar dari mereka merupakan budak yang dibawa dan dimerdekakan oleh Portugis karena masuk Kristen, oleh karenanya muncul kata Mardijker yang dihubungkan dengan kata Melayu merdeka.

Di Batavia dan Maluku digunakan untuk menunjuk sekelompok masyarakat yang secara etnis sangat beragam, yang dibentuk oleh keturunan bekas budak yang berasal dari Angola atau India dan keturunan perkawinan campuran Portugis dan orang Eropa lainnya sepanjang abad ke-16.

Orang-orang Mardijker ini berbicara dalam bahasa Portugis. Karena merupakan penganut agama kristen mereka diperbolehkan memakai pakaian Eropa. Selain bahasa Portugis sebagai ciri khas bahasa yang digunakan, musik keroncong juga merupakan salah satu budaya yang ditinggalkan oleh mereka. Musik keroncong yang sebagain besar instrumen pengiringnya adalah instrumen Eropa seperti ukelele, berawal dan berkembang dari orang-orang Mardijker.

Kehidupan sosial mereka di Batavia sangat beragam, ada yang menjadi prajurit, pemilik toko, serta penyedia unggas dan sayuran. Sayangnya menjelang akhir abad ke-18 banyak dari mereka yang jatuh miskin dan menghilang seiring dengan kemunduran VOC di Batavia. Salah satu wilayah yang dihuni oleh orang Mardijker adalah daerah rawa-rawa yang dibuka di dekat gerbang tenggara kota, di seberang kali. Mereka membangun Gereja Portugis, khotbahnya diberikan dalam bahasa Portugis

Sumber : Blackburn, susan. 2011. Sejarah Jakarta 400 Tahun. Diterjemahkan oleh : Gatot Triwira. Jakarta: Mapus Jakarta