Pakaian Muslim, Bentuk Baru Perlawanan Kolonialisme Belanda Bagian I

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pakaian lebih dari sekedar sehelai kain pelindung tubuh. Cara pengekspresian hidup dan sikap atas pengaruh lingkungan sekitar menjadi salah satu fungsi luas pakaian.
Pakaian jua menjadi karakter individu – individu, kelompok – kelompok pada gilirannya. Begitu pun di masa Kolonialisme Belanda. Pakaian dijadikan paramete status dan pandangan politik bahkan regiliusitas seseorang. Permasalahan pakaian di masa kolonial kian pelik, diantara lain (1) Pelarangan dan pembolehan pakaian dikaitkan dengan identitas kultural, emansipasi, hingga standar moralitas, dan kepantasan individu ataupun kelompok, (2) Sikap berpakaian Islami kiblat mode Arab ditafsirkan upaya "kebangkitan Islam" yang melenceng hingga merebaknya fobia haji oleh orang non-pribumi di Hindia Belanda, (3) Hanya orang terdekat dengan Belanda seperti gubernur pribumi, pribumi protestan yang diperbolehkan menggunakan pakaian ala Barat sehingga menimbulkan diskriminasi. Hiruk pikuk berpakaian di Hindia Belanda cukup mencemaskan Pemerintah Hindia Belanda akan meningkatnya gejala partikularistis yakni sentimen Islam.
Ketika perjalanan haji di masa kolonial masih relatif sedikit, tidak sedikit pula jamaah haji yang terlihat kembali ke tanah air dengan pakaian ala Arab, adopsian Tanah Suci dan pengaruh gerakan Wahabi.
Pakaian ala Arab, Tanah Suci dianggap penyalahgunaan atas penghargaan dan pemujaan sesama Muslim oleh non-pribumi di Hindia Belanda. Mereka beranggapan bahwa pakaian ala Arab tidak berbeda dengan pakaian pendeta. Kekacauan dan eksploitasi dari penganut biasa pun tak terelakkan hingga berujung fobia haji.
Sumber foto : http://www.atjehcyber.com
