Pandemi Flu Spanyol di Indonesia: Pelajaran Menghadapi Wabah Corona

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Satu abad yang lalu–sebelum virus corona (SARS-CoV-2) merebak–dunia pernah disentak oleh pandemi Flu Spanyol. Wabah ini begitu hebat sehingga diperkirakan menewaskan 50-100 juta penduduk bumi.
Wabah ini dimulai ketika sejak musim dingin 1918 dan berlangsung selama dua tahun. Virus yang menyebabkan Flu Spanyol merupakan jenis Influenza A subtipe H1N1.
Gejala dan Tingkat Kematian Flu Spanyol
Gejala dari penyakit ini tidak biasa. Pada awalnya penyebarannya, Flu Spanyol didiagnosa sebagai beragam penyakit seperti demam berdarah, kolera, atau tipus.
Banyak pasien yang mengalami komplikasi akibat penyakit ini. Jenis komplikasi yang paling mencolok akibat penyakit ini adalah pendarahan dari selaput lendir, terutama pada hidung, lambung, dan usus. Efek lainnya pun juga terjadi seperti pendarahan dari telinga dan bercak merah (petekie) pada kulit.
Hampir sebagian besar kematian yang terjadi akibat wabah ini berasal dari pneumonia bakteri, yang merupakan infeksi sekunder yang disebabkan oleh influenza. Kematian akibat virus H1N1 ini umumnya akibat pendarahan berat dan edema di sekitar paru-paru.
Tingkat kematian pada pandemi ini tidak dapat diketahui secara pasti. Akan tetapi berbagai penelitian memperkirakan rasio kematian sebesar 10-20 persen dari pasien terinfeksi.
Dengan kemampuan menginfeksi hingga sepertiga populasi dunia, Flu Spanyol diperkirakan menewaskan 3-6 persen populasi dunia. Angka ini setara dengan sekitar 50-100 juta orang meninggal di seluruh dunia akibat pandemi ini. Sebagian besar kasus Flu Spanyol terjadi di benua Eropa.
Flu Spanyol di Indonesia
Indonesia yang terletak di khatulistiwa tak luput dari wabah Flu Spanyol. Menurut catatan pemerintah Hindia Belanda, sekitar 1,5 juta orang meninggal akibat pandemi ini. Indonesia berada di posisi empat kawasan dengan kematian tertinggi.
Catatan pemerintah Hindia Belanda juga menyebutkan bahwa virus ini menyebar pertama kali di Sumatera Utara. Penumpang kapal dari Malaysia dan Singapura berlabuh di daerah tersebut dan membawa virus H1N1. Flu Spanyol pun merebak di Sumatera Utara.
Virus ini juga dengan cepat menyebar di kota-kota lain yang memiliki pelabuhan besar. Namun, pemerintah Hinda Belanda awalnya tidak memperhatikan virus ini telah masuk ke kota-kota besar di Jawa hingga Juli 1918. Pemerintah saat itu justru sedang berfokus pada penanggulangan penyakit-penyakit menular yang jamak terjadi di kawasan tropis seperti seperti cacar, pes, dan kolera.
Kebanjiran Pasien
Ketidaksadaran ini berdampak signifikan pada pencegahan penyebaran virus. Secara tiba-tiba banyak rumah sakit yang kebanjiran pasien. Kejadian penolakan juga banyak terjadi sebab kurangnya kamar yang tersedia untuk menangani banyaknya pasien. Beberapa informasi seperti yang dikabarkan oleh Koloniaal Weekblad (1919) menyatakan bahwa dokter di Makasar masing-masing harus bertanggung jawab kepada 800 pasien.
Sejumlah arsip mencatat perkembangan mencengangkan dari virus H1N1 ini.
Bahkan sempat terucap kata-kata dari dr. Deggeler saat rapat regional di Rembang bahwa tidak ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit itu kecuali amal kebaikan.
Menurut dr. Abdul Rivai dalam rapat Volskraad, sekitar 5 persen dari total populasi orang di Surabaya telah terjangkit. Terdapat banyak mayat-mayat di Pasuruan yang dibaringkan di jalan sebab para penggali kubur juga terkena virus tersebut. Selain itu masih banyak lagi kasus-kasus di daerah-daerah lain yang juga sangat parah akibat adanya flu spanyol ini. Bahkan menurut laporan dari BDG pada tahun 1920 dinyatakan bahwa hampir tidak ada daerah yang tidak terkena flu di Hindia Belanda. Hal tersebut menyebabkan jalanan begitu lengang, pintu-pintu rumah juga tertutup, banyak tangisan anak-anak yang lapar dan haus, dan banyak hewan-hewan yang mati kelaparan.
Jumlah kematian yang ada di Indonesia belum dapat dipastikan berapa jumlahnya. Beberapa faktor yang menyebabkan kesulitan penghitungan adalah belum ada sensus penduduk yang menunjukkan jumlah pasti penduduk di Indonesia. Oleh sebab itu masih banyak kemungkinan adanya jumlah kematian di daerah-daerah terpencil yang tidak tercatat. Beberapa media seperti Pewarta Soerabaia melaporkan korban meninggal akibat wabah penyakit yang ada di Indonesia ini mencapai 1,5 juta hingga 23 November 1918. Hampir sebagian besar disebabkan oleh flu spanyol, sedangkan menurut catatan statistik Koloniaal Verslag, Flu Spanyol membuat peningkatan persentase kematian di berbagai daerah di Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki dampak yang cukup berat akibat flu sanyol ini.
Itulah sedikit penjelasan tentang flu spanyol serta keadaan di Indonesia yang juga terkena pandemi yang cukup mematikan tersebut.
Sumber:
Sino Biologi. Spanish Flu (1918 influenza pandemic)
Lie, Ravando. Diambil kembali dari Laman Historia
