Konten dari Pengguna

Para Perempuan Pendamping Sang Proklamator

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sukarno dan Fatmawati. Dok: Wikimedaia/(in Indonesian) (1966) Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia, Jakarta: Gunung Agung, p. 235
zoom-in-whitePerbesar
Sukarno dan Fatmawati. Dok: Wikimedaia/(in Indonesian) (1966) Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia, Jakarta: Gunung Agung, p. 235

Siapa yang tak kenal Bung Karno? Sang Proklamator Republik Indonesia, putra dari pasangan Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai yang dikenal dunia sebagai “Singa Podium”. Kobaran api semangat di setiap pidato Bung Karno menjadikannya sosok yang berkharisma dan disegani oleh masyarakat seluruh dunia, tak terkecuali para perempuan yang juga terkesima dengan wibawanya. Di balik ketegasan Sang Singa Podium, Bung Karno ternyata menyimpan sikap istimewa terhadap para perempuan.

Dalam sebuah buku biografi berjudul Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (1966), Bung Karno mengatakan bahwa ia tertarik dengan gadis-gadis manis di sekelilingnya karena baginya para gadis tersebut ibarat bunga yang sedang bermekaran. Perilaku istimewa Bung Karno kepada para gadis menjadikan sosok Bung Karno sebagai laki-laki yang didampingi beberapa perempuan cantik semasa hidupnya. Berikut profil perempuan-perempuan pendamping hidup Bung Karno.

1. Siti Oetari Tjokroaminoto

Oetari. Dok: Wikimedia

Gadis cantik bernama Siti Oetari Tjokroaminoto merupakan sosok perempuan pertama yang mendampingi Bung Karno. Oetari, begitu ia biasa disapa, merupakan putri sulung pemimpin Sarekat Islam, Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Ia mulai dekat dengan Bung Karno dan mengaguminya ketika Bung Karno sedang menempuh pendidikan di Hogere Burger School (HBS) di Surabaya. Mereka pun akhirnya menikah meskipun usia Oetari belum genap 20 tahun. Oetari akhirnya berpisah dengan Bung Karno ketika Bung Karno meninggalkan Surabaya dan pindah ke Bandung untuk melanjutkan studi di Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS) atau yang sekarang disebut Institut Teknologi Bandung (ITB).

2. Inggit Garnasih

Inggit Garnasih dan Sukarno. Dok: Wikimedia

Perceraiannya dengan Oetari, tidak menghentikan petualangan cinta Sang Proklamator. Bung Karno menikah kembali dengan seorang gadis kelahiran Kamasan, 17 Februari 1888 bernama Inggit Ganarsih. Inggit merupakan salah satu sosok yang memiliki peran penting dalam kehidupan Bung Karno. Ia banyak menyokong dan memberikan dukungan kepada Bung Karno dalam masa-masa sulit merebut kemerdekaan dari penjajah. Bung Karno merupakan sosok cinta sejati bagi Inggit. Betapa tidak, Inggit dengan setia menjenguk Bung Karno ketika ia berada di penjara di Bandung. Inggit pula lah yang menemani Bung Karno berdiri gagah menyambut kemerdekaan Republik Indonesia. Namun cerita cinta keduanya kandas di tengah jalan. Inggit akhirnya bercerai dari Bung Karno. Meski demikian, keduanya tetap menjadi kawan baik. Bahkan Inggit juga hadir dan menyampaikan belasungkawa saat Bung Karno meninggal dunia.

3. Fatmawati

Fatmawati. Dok: Wikimedia

Siapa tak kenal Fatmawati? Perempuan anggun yang menjahit Sang Saka Merah Putih untuk dikibarkan pada hari pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Perempuan kelahiran Bengkulu, 5 Februari 1923 ini memiliki nama asli Fatimah. Fatimah atau Fatmawati menjadi perempuan pendamping Sang Proklamator saat detik-detik pembacaan teks proklamasi 17 Agustus 1945.

4. Ratna Sari Dewi

Ratna Sari Dewi. Dok Wikimedia

Ratna Sari Dewi merupakan sosok perempuan berkebangsaan Jepang yang memiliki nama asli Naoko Nemoto. Dewi menikah dengan Bung Karno pada tahun 1962 ketika usianya 19 tahun. Keduanya saling mengenal ketika Bung Karno sedang berada di Tokyo, Jepang. Dari perkenalan tersebut, keduanya akhirnya menikah dan dikaruniai seorang anak perempuan bernama Kartika Sari Dewi Sukarno. Di akhir masa kejayaan Bung Karno, keduanya berpisah dan Dewi memutuskan untuk meninggalkan Indonesia. Dewi kemudian menetap di Paris dan berkarya di sana. Sebelum akhirnya menetap di Shibuya, Tokyo pada tahun 2008, Dewi sempat kembali ke Jakarta pada tahun 1983.

5. Hartini

Hartini. Dok: Wikimedia

Hartini merupakan sosok perempuan yang mendampingi Bung Karno hingga akhir hayat. Hartini lahir di Ponorogo, 20 September 1924. Hartini menikah dengan Bung Karno saat ia telah menjadi seorang janda dengan lima orang anak. Hartini meninggal di Jakarta, 12 Maret 2002. Sebelum meninggal, Hartini menemani masa-masa sulit Bung Karno saat sakit sampai akhirnya meninggal dunia.

Sumber:

Putri, Devina Widya. 2015. Inggit Garnasih and Her Big Role as Soekarno’s Wife. International Journal of Social Science and Humanity, Vol. 5