Pemberontakan Cirebon Tahun 1818

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Faktor utama yang menyebabkan timbulnya perlawanan rakyat adalah perubahan sosial di masyarakat akibat penjajahan yang dilakukan oleh pihak kolonial.
Setelah Sultan Anom IV wafat pada tahun 1798, terjadi pergantian sultan di Kesultanan Kanoman yang dicampuri oleh Pemerintah Hindia Belanda. Sultan pengganti yang dipilih oleh Pemerintah Hindia Belanda bukanlah putra mahkota Kesultanan Kanoman, Pangeran Surianegara, melainkan putra Sultan Anom IV dari selirnya, yang bernama Pangeran Surantaka. Pangeran Surianegara diusir dari keraton dan diasingkan ke Ambon oleh Pemerintah Hindia Belanda.
Peristiwa tersebut telah menyulut kemarahan rakyat Cirebon terhadap Kompeni dan juga orang-orang Tionghoa yang menguasai tanah pedesaan. Atas desakan dari para ulama yang melakukan gerakan perlawanan, pada tahun 1806 Pangeran Surianegara kembali ke Cirebon untuk menghidupkan kembali Kesultanan Kanoman, dan hal tersebut membuat perlawanan rakyat Cirebon semakin meningkat dan melebar ke beberapa daerah di sekitarnya.
Kekuasaan di Hindia Belanda kemudian diambil alih oleh pemerintah Kerajaan Belanda yang dimulai pada tahun 1808, akan tetapi hal tersebut tidak menurunkan semangat perlawanan yang dilakukan oleh rakyat Cirebon. Gerakan-gerakan perlawanan pada masa Hindia Belanda pun semakin besar, hal itu disebabkan oleh tindakan pelanggaran hak yang dilakukan oleh pemerintah terhadap rakyat.
Pada awal abad ke-19, di daerah Cirebon gerakan perlawanan rakyat menentang pihak kolonial terjadi di Palimanan dan sekitarnya, Kandanghaur, Distrik Blandong, Kedondong, dan Majalengka. Tokoh-tokoh yang berperan dalam memimpin gerakan perlawanan rakyat Cirebon, di antaranya Bagus Rangin, Bagus Jabin, dan Bagus Serit.
Faktor utama yang menyebabkan Bagus Rangin melakukan perlawanan adalah karena tanah-tanah miliknya yang dirampas oleh pemerintah Hindia Belanda, sehingga pada 1812 Bagus Rangin mengumpulkan pengikutnya untuk melakukan perlawanan dengan sasarannya adalah membakar rumah-rumah orang Eropa dan Tionghoa yang merampas tanah desa dan tanah para petani.
Letnan Gubernur Jenderal Raffles beranggapan bahwa timbulnya gerakan perlawanan rakyat Cirebon diakibatkan oleh menurunnya kedudukan sultan-sultan Cirebon akibat tindakan pihak kolonial, sehingga ia pun menghapuskan kesultanan Cirebon. Akan tetapi, tindakan Raffles tersebut malah semakin mengobarkan semangat perlawanan rakyat Cirebon. Sekitar tahun 1816, Bagus Jabin memimpin gerakan perlawanan di daerah Indramayu dengan pusat gerakan di Kandanghaur.
Akan tetapi ia kemudian memindahkan pusat perlawanan ke Launmalang, Desa Legun, karena lokasi sebelumnya sudah diketahui oleh Residen Cirebon. Gerakan perlawanan rakyat Cirebon mencapai puncaknya pada awal tahun 1818. Secara garis besar perlawanan tahun 1818 terbagi atas dua tahap, yang pertama terjadi pada bulan Januari dan Februari, dan tahap yang kedua terjadi pada bulan Juli dan Agustus.
Faktor utama yang menyebabkan timbulnya perlawanan rakyat adalah perubahan sosial di masyarakat akibat penjajahan yang dilakukan oleh pihak kolonial. Hal tersebut terlihat dari pemungutan pajak tanah, pajak padi, dan pajak-pajak lainnya yang dilakukan oleh pihak pemerintah kolonial. Selain itu juga diturunkannya kedudukan bupati dan sultan mengakibatkan ketidakpuasaan dan kebencian rakyat terhadap kebijakan pemerintah.
Sistem tanam paksa yang dikeluarkan oleh pihak kolonial membuat para petani kehilangan lahan pertaniannya karena digunakan oleh pemerintah untuk menanam tanaman ekspor, sementara para petani tidak menikmati hasil dari penanaman tersebut.
Sumber : Hardjasaputra, A. Sobana, dan Tawalinuddin Haris. 2011. Cirebon dalam Lima Zaman (Abad ke-15 hingga Pertengahan Abad ke-20). Bandung : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat.
Foto : suratkabar.id
