Peran Georges Clemenceau bagi Kemenangan Sekutu pada Perang Dunia I

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Georges Clemenceau adalah kekuatan penting terciptanya kemenangan bagi Sekutu pada Perang Dunia I, saat dirinya menjabat sebagai Perdana Menteri Prancis. Ia dilahirkan di Mouilerion-en-Pareds, di pantai barat Prancis, pada 1841. Saat remaja ia sangat tertarik untuk mempelajari ilmu kedokteran, sehingga ia memutuskan untuk belajar ke Paris.
Namun aliran politik yang dianutnya, membawa Clemenceau menentang pemerintahan Napoleon III. Akhirnya pada 1865, ia memutuskan untuk pergi ke Amerika Serikat, dan bekerja sebagai seorang guru dan wartawan di sana.
Clemenceau kembali ke Prancis untuk membuka praktik dokter, setelah beberapa tahun tinggal di Amerika Serikat. Ketika pemerintahan Napoleon III digulingkan pada 1870, Prancis memproklamasikan Republik Ketiga, yang dilakukan oleh para pejuang dari kubu republik. Sejak saat itulah, Clemenceau mulai aktif dalam perpolitikan di Prancis karena ia memiliki pandangan yang sama dengan pemerintahan baru tersebut.
Pada 1876, Clemenceau terpilih menjadi anggota “the Chamber of Deputies”, atau Dewan Perwakilan Rakyat di Prancis. Pergerakan politiknya yang cukup besar membuat ia dengan cepat menjadi pemimpin Partai Radikal, dan mendapat julukan “The Tiger” karena ketekunan dan kritik-kritiknya yang agresif.
Pada 1880, ia mulai menerbitkan surat kabar miliknya sendiri, bernama La Justice, yang semakin menambah reputasinya sebagai pengkritik politik Prancis. Namun pada 1882, Clemenceau terlibat dalam sebuah kasus mengenai Terusan Panama, yang membuat dirinya kehilangan kesempatan untuk kembali dipilih sebagai anggota dewan.
Selama 9 tahun berikutnya, Clemenceau mendirikan perusahaan surat kabar lain, L’Aurore. Melalui surat kabarnya itu, ia membantu memenangkan masalah Alfred Dreyfus, seorang kapten tentara Yahudi yang dituduh melakukan kejahatan nasional. Dukungannya yang sangat besar terhadap masalah Alfred Dreyfus, membuat Clemenceau kembali mendapat kesempatan di kalangan orang-orang republik.
Clemenceau lalu dipilih sebagai anggota Senat pada 1902, dan empat tahun setelahnya terpilih sebagai perdana menteri. Selama memegang jabatan penting itu, ia melakukan banyak perubahan di Prancis, seperti menyelesaikan berbagai permasalahan sosial, meredakan aksi mogok kaum buruh, dan melakukan tindakan memisahkan kepentingan gejera dengan negara. Pada 1909, ia kehilangan jabatannya sebagai perdana menteri, dan berpindah kepada Aristide Briand.
Melalui surat kabar miliknya, dan pidato-pidatonya, Clemenceau sudah lama menekankan pentingnya persiapan perang bagi Prancis. Ia sangat yakin bahwa perang besar akan segera terjadi, dan Prancis akan menjadi wilayah perang yang berbahaya. Ketika perang benar-benar terjadi, Clemenceau sangat vokal menentang Joseph Joffre, kepala staf Angkatan Darat Prancis.
Pada 1917, jutaan nyawa rakyat Prancis menjadi korban karena kurangnya persiapan menghadapi Perang Dunia I tersebut. Pada bulan November 1917, Presiden Prancis, Raymond Poincare, menunjuk Clemenceau untuk kembali menjabat sebagai perdana menteri. Clemenceau dengan cepat bergerak dan melakukan banyak perubahan. Semangat rakyat Prancis untuk terus berjuang menghadapi perang semakin berkobar setelah pidato-pidato heroik Clemenceau.
Ia berhasil meyakinkan pasukan Sekutu untuk menerima satu komando tunggal di bawah marsekal Prancis, Jenderal Ferdinand Foch. Akhirnya dengan bantuan Amerika Serikat, Sekutu dapat meraih kemenangan atas Jerman dalam waktu satu tahun.
Clemenceau memimpin sebuah konferensi yang dikenal sebagai Konferensi Perdamaian Paris pada 1919. Kemudian ia bersama dengan presiden Amerika Serikat, Woodrow Wilson, menjadi tokoh utama dari perjanjian tersebut. Tahun berikutnya, Clemenceau dikalahkan oleh Paul Deschanel dalam pemilihan presiden. Ia pun akhirnya memutuskan untuk pensiun dari politik dan meninggal dunia di Paris pada 1929.
Sumber: Paparchontis, Kathleen. 2005. 100 Pemimpin Dunia yang Berpengaruh di Dalam Sejarah Dunia. Tanggerang: Karisma
Foto: commons.wikimedia.org
