Perang Kemerdekaan Texas Melepaskan Diri dari Meksiko

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pada 1820, penduduk Amerika Serikat berbondong-bondong memasuki daerah yang sekarang dikenal sebagai Texas, melalui Sungai Sabine. Walau dalam keadaan masih memperjuangkan kemerdekaannya dari Spanyol, Meksiko dengan baik para pendatang itu dan mengundang mereka untuk tinggal di Texas. Tetapi orang-orang Meksiko memberikan dua syarat yang harus dipenuhi oleh mereka, yaitu menjadi penduduk Meksiko, dan memeluk agama Katolik.
Umumnya orang-orang Amerika setuju dengan persyaratan yang diberikan oleh Meksiko, namun tidak bersungguh-sungguh dalam memenuhi kedua syarat itu dalam praktek kesehariannya.
Pada 1830, Meksiko melarang impor budak ke Texas, sehingga hal itu akan mengencam mata pencaharian yang telah dibawa oleh para penduduk Amerika di Texas, yaitu produksi kapas. Mereka cukup banyak memerlukan tenaga para budak untuk proses produksi mereka.
Orang-orang Amerika Serikat menolak tunduk pada peraturan yang dikeluarkan Meksiko tersebut, sehingga hubungan antara Texas dan Mexico City menjadi cukup tegang. Stephen Austin, salah seorang penduduk Amerika terkemuka di Texas pergi ke Mexico Citu untuk membuat kesepakatan dengan pemerintah, tetapi ia tidak berhasil mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Saat presiden Meksiko, Antonio Lopez de Santa Anna membatalkan konstitusi pada 1824, yang memberikan otonom cukup besar kepada setiap negara bagian Meksiko, penduduk Amerika di Texas mengumumkan bahwa wilayah Texas adalah sebuah negara yang merdeka dari Meksiko.
Mengetahui hal itu, Santa Anna memerintahkan 6000 tentara Meksiko meredam pemeberontakan yang akan dilakukan oleh penduduk Texas. Awalnya pemerintah Meksiko meminta dengan damai untuk menghentikan pemerontakan penduduk Texas, yang telah menguasai benteng Almo. Tetapi penduduk Texas, di bawah pimpinan Kolonel William Travis menolak untuk menyerah.
Akhirnya pasukan Meksiko melakukan pengepungan di sekitar wilayah Texas sejak 24 Februari 1836 hingga 6 Maret 1836. Pasukan Meksiko menyerang benteng Almo, dan membunuh seluruh penduduk Texas yang berada di sana. Tetapi pihak Meksiko mengalami kerugian yang tidak sedikit, mereka kehilangan sekitar 1500 orang tentara.
Santa Anna kemudian memerintahkan pasukannya bergerak ke wilayah selatan, dan berhasil menangkan 400 orang Amerika di Goliad. Orang-orang Amerika akhirnya memilih untuk menyerah dengan syarat mendapat perlakukan yang wajar sebagai tawanan perang. Akan tetapi, Santa Anna justru memerintahkan untuk membunuh mereka dengan sangat kejam. Pembantaian di Goliad itu menjadi permasalahan yang harus dihadapi oleh orang-orang Amerika di Texas yang ingin merdeka.
Seorang colonel dari Texas, Sam Huston mengumpulkan sebuah kekuatan terdiri dari 1500 orang Texas, yang mayoritas berasal dari penduduk sipil, untuk berperang melawan Meksiko di San Jacinto, pada 21 April 1836. Sam Houston dan pasukannya menerapkan strategi penyerangan saat jam tidur siang, di mana pasukan Meksiko banyak yang sedang terlelap. Pasukan Meksiko sangat terkejut dengan penyergapan Sam Houston sehingga mereka tidak dapat banyak melakukan persiapan perang. Santa Anna pun berhasil ditangkap, dan pasukan Meksiko banyak yang memilih untuk lari.
Kemenangan di San Jacinto membuat Texas diakui sebagai wilayah yang merdeka. Santa Anna menandatangani sebuah perjanjian yang memberikan kebebasan bagi negara bagian Texas, sehingga ia pun dibebaskan.
Sumber : Crompton, Samuel Willard. 2007. 100 Peperangan yang Berpengaruh di Dalam Sejarah Dunia. Tanggerang : Karisma
Foto : commons.wikimedia.org
