Konten dari Pengguna

Perhimpunan Hindia (Indische Vereeninging )

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Meningkatnya jumlah mahasiswa Indonesia yang bersekolah di Negeri Belanda pada awal abad ke-20 mendorong mereka yang sama-sama sedang mengadu nasib di Negeri orang untuk membentuk suatu perhimpunan.

Tercetuslah Indische Vereeninging atau dalam bahasa Indonesianya Perhimpunan Hindia yang didirikan pada 1908 atas dorongan Abendanon dan Casajangan. Awal didirikan tujuan utama diadakan pertemuan-pertemuan untuk menunjukan bahwa ada kontak diantara para anggotanya.

PH yang baru lahir berpendirian lunak dan taat kepada pemerintah, oleh karena itu pula banyak donatur yang mau menyumbang sebagai bantuan dana untuk PH. Dua tahun pertama pengurusnya adalah Casajangan, Soemitro, dan Ph. Laoh. Pada 1910 Doketr Ph. Laoh mengambil alih kepemimpinan PH, dan bersama rekan-rekannya, Moh. Salih, dan seorang mahasiswa kedokteran, R. Brenthel, pengurus PH itu menjadi pusat perhatian kota Amsterdam.

Tahun berikutnya tampil pengurus yang sepenuhnya baru dan berasrama di Leiden di bawah pimpinan Hoesein Djajadiningrat, di bantu oleh dua bersaudara, Gondowinoto dan Noto Soeroto. Setelah menyelesaikan studi Doktornya Hoesein pulang ke Indonesia untuk memulai karirinya di bidang ilmu dan pemerintahan. Ketika Hoesein Djajadiningrat berhenti menjadi ketua PH pada Oktober 1911, kemudian digantikan oleh Noto Soeroto.

Di bawah pimpinan Noto PH membentuk satu buletin atau kabar dengan seri Voordrachten en Mededeelingen (Ceramah dan Informasi), sehingga PH menjadi lebih sering memberitakan kegiatannya ke luar kalangan anggota dab donatur. Sejalan dengan dengan meningkatnya jumlah mahasiswa Indonesia, naik juga keanggotaan PH, dari akhir 1912 sampai 1913 jumlah anggota PH mencapai 47 orang, sedang jumlah donaturnya mencapai 74 orang.

Meskipun PH merupakan perhimpuanan milik pribumi yang mengaku taat dan patuh kepada pemerintah nyatanya mulai timbul tanda-tanda sikap yang lebih kritis. ini juga di pengaruhi oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di Hindia. Sebagian merasa bahwa perhimpunan tidak lagi seratus persen membela kepentingan pribumi terhadap Negeri Belanda, sehingga setlah 1913 PH ini mulai tenggelam keberadaannya.

Sumber : Poeze A Harry.2008. Di Negeri Penajajah.Jakarta: KPG Bekerjasama dengan KITLV

foto : plengdut.com